Cita Rasa Peranakan di Kopi Oey Candra Naya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di Kopi Oey Candra Naya, Jakarta, 16 November 2016. TEMPO/Nurdiansah

    Suasana di Kopi Oey Candra Naya, Jakarta, 16 November 2016. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Di ruas jalan yang menghubungkan Gedung Candra Naya dan bangunan yang memiliki tipe serupa ditata kursi-kursi koboi, dingklik, dan meja-meja marmer tempo dulu. Layaknya gang pribadi, jalanan itu bukan dikhususkan buat pejalan kaki, tapi untuk orang yang ingin duduk santai sambil minum kopi atau sekadar menikmati kudapan.

    Lu orang pesan aja apa yang lu pingin. Nanti wo bayar. Di sini sedap kopinya,” tutur seorang pria berusia 50-an berparas peranakan kala berbicara dengan rekan bisnisnya di sisi meja yang menempel dengan gedung cagar budaya yang berada di Kawasan Kota Tua, Jakarta. Logatnya medok Cina megapolitan. Di sudut lain, laki-laki dan perempuan dengan paras serupa turut asyik meramu obrolan dengan aksen seirama.

    Sejurus kemudian, kala mendongakkan kepala, lampion-lampion Imlek terpasang di tepi-tepi atap bangunan. Geraknya berayun-ayun mengikuti arah angin. Jendela-jendela kayu yang menempel di gedung berarsitektur fusi Cina-Jawa ini kerap menjadi spot yang diabadikan pengunjung. Ada lagi potret dua dimensi dari zaman peranakan yang dibingkai lusuh dan dipajang di dalam ruangan. Sentuhan nostalgia langsung membuat pandangan di restoran berkapasitas 55 orang ini.

    “Jadi mau pesan apa,” kata M. Adi A, Kapten Restoran Kopi Oey Candra Naya, menyilap perhatian. Lantaran sudah menguping obrolan pengunjung dan melirik sajian yang dipesan, kopi Oey menjadi jajanan utama yang wajib dibeli. Tak berapa lama, secangkir robusta dari salah satu wilayah di Jawa Barat mengepul di hadapan. Aromanya kuat, sementara pahitnya terasa amat kental.

    ADVERTISEMENT

    “Jangan ditambahkan gula, nanti merusak rasa,” kata Adi. “Kalau tak kuat, pesan saja yang arabika. Tapi tidak ada yang hangat, semua bentuknya es kopi. Rasanya lebih asam.”

    Restoran ini bermula saat Oey Boen Than mengalawi usaha pada 1928 dan menamainya Kopitiam. Kopitiam dalam dialek Hokkian disebut ka fe tien yang berarti kedai kopi. Kopitiam berkonsep tempo dulu, tapi dibangun dengan sentuan kreasi baru. Sementara Kopitiam Oey atau Kopi Oey dibangun Bondan Winarno, maestro kuliner yang juga mantan jurnalis. Oey merupakan pelesetan "Wi" dari Winarno. Hal itu membuat orang mengira seolah-olah Oey adalah nama marganya, Oey-narno. Sesuai dengan rancangan pendulunya, restoran waralaba ini memiliki menu utama kopi.

    Menilik rasa sajian unggulannya yang pahit disediakan camilan pendamping yang bercita rasa manis. Karena itu, tersaji menu roti bakar dan yang banyak dilirik pengunjung ialah roti bakar butter srikaya. “Selai srikayanya kami buat sendiri, bukan dari pabrik,” kata Adi. Teksturnya yang kental dan berserat membuat orang percaya kalau mereka memang mengolahnya sendiri.

    Dari hidangannya, piring berisi empat potong roti bakar itu terlihat biasa saja, polos tanpa aksesori dan memancarkan rona yang pucat. Namun ternyata gurih bercampur manis merupakan harmonisasi yang bakal berbaur di dalam mulut. Panggangan yang tidak terlampau gosong juga membuat rasanya tidak pahit. Keaslian roti tawarnya masih terasa.


    Roti bakar butter srikaya di Kopi Oey Candra Naya (TEMPO/Nurdiansah)

    Roti bakar saja bukan solusi yang komplet bila sedang lapar. Sebab, untuk sekadar menyeruput kopi, kondisi perut juga tidak boleh keroncongan. Karena itu, disediakan menu makanan berat, semisal nasi goreng, soto tangkar, dan beragam olahan mi. “Kalau mau yang paling istimewa, pesan sego ireng spesial,” ujar Adi.

    Seno (nasi) ireng ialah nasi goreng dengan bumbu kepayang atau keluak yang pekat. Keluak merupakan bumbu yang digunakan untuk membuat makanan berwarna hitam. Umumnya dipakai buat memasak kuah rawon, brongkos, atau sup konro. Selain meninggalkan jejak berwarna yang khas, aroma yang dihasilkan sangat berciri dan menggugah selera.

    Bila belum kenyang, singkong goreng sambal roa wajib dicoba. Rasanya yang empuk dan gurih berpadu dengan sambal beraroma ikan khas Manado menjadi paduan yang sempurna. Tampak luarnya memang seperti singkong keju, gading di luar, empuk di dalam.


    Singkong goreng sambal roa di Kopi Oey Candra Naya (TEMPO/Nurdiansah)

    “Kami juga punya menu khas Jakarta, bukan hanya peranakan. Namanya es cincau jahe Cikini,” kata Adi. Sesuai dengan namanya, dalam gelas kaca setinggi 20 sentimeter, tumpukan santan, jahe, cincau, dan gula membentuk gradasi warna yang cantik. Semenarik tampilannya, khasiat jahe dan cincau juga istimewa. Cincau dipercaya menjadi obat alternatif untuk hipertensi, sementara jahe mampu melancarkan peredaran darah.


    Es cincau jahe Cikini di Kopi Oey Candra Naya (TEMPO/Nurdiansah)

    Mengobrol sambil makan memang bikin lupa diri. Pelan-pelan, matahari mulai bergerak ke barat. Orang-orang yang berkantor di sekitar Gajah Mada telah beranjak. Satu per satu menyambangi restoran yang letaknya tersembunyi di balik Gedung Candra Naya dan Hotel Novotel ini. Kursi-kursi koboi yang tadi lengang mulai kelihatan penuh. Suasana kian hidup tatkala lampu-lampu lampion berpendar.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA

    Berita lainnya:
    7 Tren Terpopuler di New York Fashion Week 2017
    Kotoran Telinga Justru Membersihkan, Simak Faktanya
    Kencan Buta di Tokyo, Pasangan Wajib Gunakan Penutup Mata


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.