SET, Program Pengajaran Keseimbangan Emosi dan Sosial Siswa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Scanpix Sweden, Fredrik Sandberg

    AP/Scanpix Sweden, Fredrik Sandberg

    TEMPO.COJakarta - Dalam dunia pendidikan, Social and Emotional Thinking (SET) mendukung anak mempunyai kemampuan menangani emosi, memecahkan masalah secara mumpuni, menumbuhkan rasa percaya diri, empati, serta hubungan intrapersonal yang baik dengan lingkungan sekitar.

    Banyak hal yang dapat dipelajari anak di sekolah. Tidak hanya tentang mata pelajaran, tapi juga kecerdasan lainnya. Salah satu isu aktual di dunia pendidikan adalah Social and Emotional Thinking (SET), yang mengandung pengertian program pengajaran yang berfokus pada keseimbangan emosi dan sosial para siswa.

    Hal tersebut terkuak dalam talk show “Social and Emotional Thinking, Kunci Sukses Perkembangan Psikologis dan Psikososial Siswa” di Australian Independen School (AIS), Pejaten, Jakarta, pekan lalu.

    Hal lain yang patut dilakukan orang tua untuk mengoptimalkan kemampuan sosial serta emosional anak adalah membangun pikiran positif di rumah. Pembicara SET dari Inggris dan pengajar SET AIS, Linzi Band, mengatakan orang tua tidak tahu segala hal tentang anaknya. Begitu pun pihak sekolah tidak tahu semua hal tentang buah hati Anda.

    “Hal yang perlu Anda lakukan adalah berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui apa yang dilakukan si kecil ketika tidak sedang dalam pengawasan Anda. Kedua, menanamkan rasa percaya diri dan budaya berpikir positif ke hati si kecil,” ujar Linzi.

    Salah satu momen yang baik untuk menanamkan rasa percaya diri dan pikiran positif kepada anak adalah makan malam. Makan malam, kata Linzi, merupakan momen membahagiakan sekaligus penting dalam keluarga. Dalam suasana yang hangat dan relaks, Anda bisa berinteraksi dengan si kecil. Anda bisa memulai dengan menanyakan bagaimana suasana sekolah hari ini? Ciptakan waktu dan percakapan yang mengasyikkan. Yang tak kalah penting, lontarkan pertanyaan bernada positif kepada anak.

    “Sekali lagi, pertanyaan bernada positif. Misal, apa yang kamu sukai dari teman sekolahmu? Dengarkan pendapatnya. Jangan menghakimi pendapatnya. Ketika Anda tidak menghakimi, maka Anda sedang membangun kepercayaan terhadap sudut pandangnya. Yang perlu Anda lakukan hanya mendengarkan pendapatnya. Beri waktu kepadanya bersuara. Saat si kecil didengar, maka ia akan menempatkan Anda sebagai sahabat dan tempat curhat,” katanya. *

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Ayah dan Bunda, Ini Mantra Ajaib untuk Anak-anak
    Menjalin Kedekatan Orang Tua dan Anak Remajanya
    3 Sikap Ayah-Bunda yang Bikin Anak Tidak Percaya Diri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.