Anak Umur 1,5 Tahun Sudah Sekolah, Perlu atau Tidak?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Scanpix Sweden, Fredrik Sandberg

    AP/Scanpix Sweden, Fredrik Sandberg

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu pertanyaan abadi yang menggenang di hati para ibu adalah kapankah sebaiknya anak boleh bersekolah?

    Selama ini, usia 5 tahun dipandang sebagai usia ideal menyekolahkan anak. Namun, beberapa ibu berpandangan anak bisa diperkenalkan dengan sekolah di usia lebih dini. Ini bertujuan untuk melatih si kecil bersosialisasi dengan teman sebaya.

    Rupanya, beberapa sekolah di Ibu Kota maupun kota besar lainnya telah mempunyai kelas-kelas yang lebih spesifik untuk merangkul anak di bawah usia 5 tahun. Bahkan, pada usia 1,5 tahun pun si kecil bisa berkenalan dengan sekolah.

    Direktur of Operations Kiddie Planet a Montessori Plus Pre-School, Reshma Bhojwani mengatakan, ada banyak cara untuk mengenalkan si kecil pada kegiatan bermain dan belajar. “Di sekolah kami misalnya, anak berusia 1,5 tahun sampai 3 tahun dipersilakan masuk ke toddler class. Usia 3 tahun sampai 4 tahun di explores class. Anak 4 tahun sampai 5 tahun learners class. Sementara anak usia 5 tahun sampai 6 masuk ke achievers class. Mereka diwisuda pada usia 6 tahun,” ujar Reshma.

    Kegiatan untuk anak-anak dikemas dengan melibatkan partisipasi orang tua. Akhir bulan lalu misalnya, dunia memperingati United Nation Day. Kiddie Planet menggagas kegiatan memperkenalkan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui cara yang unik. Pendekatan pada anak-anak dilakukan dengan sudut pandang: bahwa di dunia ini, ada banyak negara.

    Pihak sekolah kemudian berdiskusi dengan orang tua untuk memilih negara apa saja yang akan diperkenalkan kepada anak-anak. Mereka memilih empat negara yang mewakili empat benua yaitu: Korea Selatan (Asia), Spanyol (Eropa), Brasilia (Amerika), dan Australia (benua Australia).

    Anak-anak belajar mengenali bendera negara, kebudayaan, dan makanan khas negara tersebut. Ini salah satu cara mengajak si kecil mengenali dunia dalam konteks yang sederhana. “Empat ruang kelas dihiasi dengan atribut negara masing-masing. Anak-anak yang hendak masuk ke negara (ruang kelas) itu harus 'permisi' dengan memperlihatkan paspor (buatan) untuk distempel. Di kelas mereka mengenal makanan, pakaian adat, dan lain-lain. Pada hari terakhir orang tua kami undang untuk mendampingi si kecil. Tujuannya, menciptakan rasa nyaman kepada anak. Dari kegiatan seru-seruan ini anak sadar bahwa mereka bagian kecil dari dunia,” kata Reshma.

    Ada orang lain dengan bahasa berbeda, pakaian berbeda, dan makanan berbeda yang juga hidup. Mereka meski berbeda, patut kita hormati dan kita sayangi. “Itulah pesan yang ingin kami sampaikan kepada si kecil. Jadi kalau ditanya apakah efektif saya kira efektif. Mengingat, belajar bisa apa saja dan setiap sekolah memiliki cara kreatif dengan melibatkan orang tua (di beberapa kegiatan) untuk mendidik si kecil bersama-sama,” ujarnya.

    TABLOIDBINTANG

    Baca juga:
    Tips Memotret Saat Wisata Bersama Anak
    Ayo, Kita Buat Wadah dengan Bahan Sederhana
    Popok Anak Anda Mengandung Bahan Kimia Berbahaya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.