6 Kesalahan yang Bikin Surat Lamaran Kerjamu Sia-sia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wawancara kerja. shutterstock.com

    Ilustrasi wawancara kerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anda menyebar surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Namun, belum ada satu pun yang merespons. Padahal permohonan lamaran kerja itu sudah Anda kirimkan sejak lama. Dalam hati bertanya, apakah ada yang keliru dari surat lamaran itu?

    Siapa di Balik Kostum Syahrini?

    Memang benar, persaingan dunia kerja itu keras. Pesaing Anda banyak. Namun, itu bukan satu-satunya alasan atau penyebab utama surat lamaran Anda berakhir tanpa kabar. Bisa jadi, nasib lamaran kerja berujung nihil akibat ulah Anda sendiri.

    Perlu diketahui, sebelum memanggil Anda untuk wawancara kerja, perusahaan memeriksa lamaran secara seksama. Mereka juga mencari tahu segala sesuatu tentang Anda melalui berbagai cara.

    Apabila hasil penelusuran mereka tentang profil Anda bagus, siap-siap menerima panggilan wawancara kerja. Tapi jika sebaliknya, mungkin ini yang membuat surat lamaran tak bersambut. Supaya surat lamaran berbuah manis, sebaiknya hindari tujuh hal berikut ini:

    1. Tampil aneh di media sosial
    Sudah umum bila perusahaan 'memeriksa' karyawan dan calon karyawan mereka melalui media sosial. Seluruh isi akun kita diamati dan diperhatikan, mulai dari profil, foto profil, hingga postingan yang pernah diunggah. Bila isi akun media sosial Anda tampak aneh dan tidak jelas, maka sudah bisa dipastikan Anda akan dicoret dari daftar calon karyawan.

    Sebaiknya, segera 'bersih-bersih' dan 'dandani' akun media sosial Anda. Gunakan foto dengan pose profesional untuk profil, dan hapus postingan yang bernada negatif. Jangan lupa sesekali mencoba mencari nama Anda di mesin pencari. Jangan sampai nama Anda muncul terkait hal-hal yang bersifat buruk dan negatif.

    2. Menjiplak resume
    Dalam hal ini, Anda membuat resume dengan meniru contoh resume yang sudah ada. Parahnya, demi mendapatkan resume yang sempurna, Anda meniru contoh resume itu 100 persen, tanpa membuat perbedaan sedikit pun. Ini merupakan kesalahan fatal. Perusahaan akan dengan mudah menyadari hal ini. Jika sudah begini, Anda tak perlu berharap banyak untuk menerima panggilan wawancara kerja.

    3. Terlalu agresif
    Setelah mengirimkan lamaran, boleh-boleh saja Anda menghubungi pihak perusahaan yang dituju untuk menanyakan nasib lamaran. Anda bisa menghubungi melalui email atau menelepon. Tapi, ingat batasan. Meski Anda dilanda penasaran, tahan emosi untuk menghubungi mereka setiap hari. Setidaknya beri waktu 3-7 hari setelah Anda mengirimkan surat lamaran. Jika terlalu sering menghubungi, mereka akan merasa tidak nyaman karena Anda telah menerornya.

    4. Kata dan tata bahasa berantakan
    Banyak kata-kata yang salah atau typo dalam resume Anda. Belum lagi tata bahasanya tak beraturan. Hati-hati, urusan sepele seperti ini juga bisa menentukan nasib lamaran kerja Anda. Perusahaan bisa menilai Anda sebagai orang yang tidak memperhatikan detil, tidak peka, atau yang terparah mereka menilai Anda tidak cerdas. Sebab itu, sebelum mengirim surat lamaran sebaiknya periksa dan baca ulang.

    5. Pelit informasi diri
    Melamar pekerjaan ibarat memperkenalkan diri kepada teman baru. Setidaknya Anda memberi tahu nama dan informasi diri lainnya yang diperlukan. Begitu pula saat membuat resume. Berikan informasi tentang diri Anda yang sekiranya penting untuk diketahui perusahaan. Siapa tahu, kriteria diri Anda adalah sosok yang mereka butuhkan.

    6. Tidak mengikuti instruksi
    Perusahaan meminta para pelamar kerja untuk mengirimkan surat lamarannya ke alamat email tertentu. Tapi, Anda malah mengirimkannya ke alamat email yang lain, misalnya ke alamat surat elektronik manajer personalia atau ke alamat email direktur utama. Bila instruksi sederhana seperti itu saja tidak diikuti, bagaimana pihak perusahaan mau mempercayakan Anda untuk mengikuti instruksi lainnya setelah diterima bekerja kelak?

    TIME | LUCIANA

    Berita lainnya:
    Cara Bersihkan Smartphone yang Benar
    6 Posisi Lengan Agar Menarik Saat Difoto
    5 Barang di Rumah yang Paling Banyak Mengandung Bakteri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.