Malaikat Maut Itu Bernama Polusi Udara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi polusi udara. Shutterstock

    Ilustrasi polusi udara. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta -  Lebih dari 90 persen penduduk dunia tinggal di wilayah dengan polusi udara melebihi batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demikian data terbaru menunjukkan pada Selasa (27/9/2016). Sekitar tiga juta orang meninggal setiap tahun karena polusi udara terbuka, sebagian besar di antaranya dari Cina, kata WHO.

    WHO menggunakan peta interaktif untuk menunjukkan tempat-tempat polusi udara berbahaya di setiap negara. Peta tersebut juga "memberikan dasar bagi pengawasan kemajuan upaya memerangi polusi udara," kata Flavia Bustrea, Asisten Direktur Jenderal WHO dalam pernyataan tertulis.

    Sekitar 6,5 juta orang meninggal akibat polusi udara -- baik di ruangan tertutup maupun terbuka -- pada 2012. Angka tersebut setara dengan 11 persen semua kematian pada tahun yang sama.

    Cina, negara yang terkenal karena buruknya kualitas udara, menyumbang angka kematian terbanyak akibat polusi udara terbuka dengan jumlah lebih dari satu juta orang.

    Secara keseluruhan, 94 persen kematian pada tahun tersebut diakibatkan oleh penyakit tidak menular seperti kardiovaskular, paru-paru kronis, dan kanker paru-paru. WHO menambahkan bahwa polusi udara "juga meningkatkan risiko infeksi pernapasan akut."

    Hampir 90 persen kematian terjadi di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Sekitar 75 persen terjadi di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

    "Polusi udara terus membawa kabar buruk kesehatan bagi populasi paling rawan seperti perempuan, anak-anak, dan manusia lanjut usia. Untuk menjadi sehat, mereka harus menghirup udara segar secara terus menerus," kata Bustrea.

    Menurut WHO, penyebab utama polusi udara di antaranya adalah moda transportasi yang tidak efisien, pembuangan gas rumah tangga, pembakaran sampah, pembangkit listrik tenaga batu bara, dan aktivitas industrial.

    "Perlu tindakan yang cepat untuk menangani persoalan ini," kata Maria Neira, direktur departemen kesehatan publik, lingkungan dan sosial dari WHO.

    "Solusi yang bisa diterapkan di antaranya adalah transportasi ramah lingkungan, manajemen sampah yang baik, energi terbarukan, dan pengurangan emisi industrial," kata dia.

    Perhitungan polusi udara oleh WHO diukur oleh 16 ilmuwan dari delapan institusi internasional. Mereka mengumpulkan data dari 3.000 lokasi dengan pengawasan polusi dari darat dan analisis gambar satelit.

    BISNIS.COM

    Artikel lain:
    Jangan Katakan ini pada Mereka yang Akan Bercerai
    Jangan Takut Makan Petai, Banyak Manfaatnya lho!
    12 Cara Sederhana Atasi Masalah Lambung


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.