Bayi Juga Bisa Jerawatan, Bagaimana Menanganinya?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruam pada bayi. lifenstats.com

    Ruam pada bayi. lifenstats.com

    TEMPO.COJakarta - Orang tua terbiasa melumuri buah hatinya dengan minyak-minyakan. Misalnya, minyak telon yang dioles pada sekujur tubuh anak setelah mandi. "Itu tidak diperlukan," kata dokter spesialis anak, Rini Sekartini. "Kalaupun pakai, secukupnya dan tipis saja."

    Bukan apa-apa, kulit bayi rentan terpapar zat asing. Reaksi yang paling sering muncul adalah ruam. Rini mengatakan pemakaian minyak dan sejenisnya harus segera dihentikan saat muncul bintil-bintil pada kulit bayi.

    "Bayi baru lahir juga bisa berjerawat," ujar Rini. Anggota Staf Divisi Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan jerawat diturunkan lewat hormon ibu selepas menyusui. 

    Kabar baiknya, bintik-bintik kecil pada wajah si kecil ini akan hilang dengan sendirinya asalkan dijaga kebersihannya. "Jangan dioleskan kosmetik karena kulit bayi sensitif," tutur Rini.

    Dilihat dari anatominya, Rini menjelaskan, struktur kulit bayi lebih tipis ketimbang orang dewasa, dengan ikatan antarsel yang longgar. Jika dianalogikan, struktur kulit bayi bak batu bata yang renggang. Jadi kulit mereka rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi.

    Para orang tua, dia melanjutkan, pantang menyepelekan gangguan kulit pada bayi. "Karena bisa mengganggu tumbuh-kembangnya," ucap Rini. Sebab, si bayi akan terus berusaha menggaruk ruamnya dan merusak kenyamanan tidurnya. Padahal, dalam sehari, bayi membutuhkan tidur 15-16 jam.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Bersihkan Bantal dan Guling? Begini Caranya
    Cara Bijak Menyampaikan Perceraian kepada Anak
    Jangan Bosan Ingatkan Anak Soal 4 Bagian Tubuh Terlarang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.