Bapak-Ibu, Jangan Pernah Ajak Anak Nonton Film Dewasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Anak Nonton Bioskop/Film. huffingtonpost.co.uk

    Ilustrasi Anak Nonton Bioskop/Film. huffingtonpost.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejadian orang tua mengajak putra-putrinya yang masih kecil menyaksikan film dewasa terus berulang. Vera Itabiliana, psikolog anak, merasakan sendiri pengalaman tersebut. Ketika menonton The Revenant di bioskop bersama suaminya beberapa bulan lalu, dia mendapati beberapa orang tua membawa serta anaknya. “The Revenant ini, saya saja masih memalingkan wajah saat melihatnya,” kata Vera.

    Vera pun sering bertanya-tanya dalam hati. Bahkan ingin juga bertanya langsung, kenapa, sih anak-anaknya mesti dibawa? Karena tidak ada hal yang demikian urgen sehingga anak-anak—terutama yang masih kecil—harus ikut melihat tontonan dewasa. Menonton bioskop sendiri, toh bukan kebutuhan primer manusia. Bukan sesuatu yang harus banget dilakukan, terutama ketika sudah menjadi orang tua.

    “Enggak ngerti, deh saya,” Ujar Vera yang praktik di Lembaga Psikologi Terapan UI. “Dulu, saya juga pernah menonton The Raid 2, bersama suami, midnight. Ada bapak-bapak mengajak anaknya umur 6 atau 8 tahun. Saat itu saya ingin tanya, kenapa, sih Pak anaknya dibawa? Selain jam pertunjukan yang tidak cocok untuk anak, filmnya pun dewasa (kekerasan). Kalau mau pakai alasan 'tidak tahu', agak sulit percaya juga. Jaman sekarang informasi bisa dengan mudah ditemukan. Mereka (orang tua yang menonton) juga tentu tahu The Raid film seperti apa,” sambungnya.

    Efek negatif menjadi penyebab mengapa anak-anak tidak diperbolehkan melihat tontonan yang jauh melebihi usianya. Vera mengatakan ada nilai-nilai yang akan diserap oleh anak. Tidak secara langsung terlihat seusai menonton, melainkan muncul ketika anak dihadapkan pada situasi sama seperti yang digambarkan dalam film.

    Misal, tontonan berbau kekerasan, maka kelak dihadapkan dengan situasi kekerasan (melihat atau mengalami kejadian kekerasan), anak akan merasa itu hal yang biasa. “Rasa empati mereka terhadap korban kekerasan juga semakin tipis. Mereka akan bilang, ah, biasa saja,” Vera memberi contoh.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Dampak Negatif Nonton Kartun Anak
    Ayo Selektif Memilih Tontonan untuk Anak
    Eropa Kelimpungan Hadapi Anak-anak Obesitas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.