Pakai Bahan Wol di Daerah Beriklim Tropis, Kenapa Tidak?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi baju berbahan wol. dok.major minor

    Ilustrasi baju berbahan wol. dok.major minor

    TEMPO.CO, Jakarta - Wol adalah serat tekstil yang terbuat dari bulu domba, yang lazim digunakan di negara empat musim. Biasanya, wol digunakan sebagai bahan busana musim gugur atau dingin.

    Namun, di tangan perancang Indonesia, serat wol dimodifikasi hingga layak digunakan sebagai material dasar busana musim semi atau panas. Dua label yang berani berinovasi ini adalah Toton, yang diarsiteki Toton Januar dan Hariyo Balitar; serta Major Minor Maha, yang dikomandoi Sari Nasution dan Inneke Margarethe.

    Major Minor mengolah serat wol merino menjadi busana wanita lengkap—atasan dan bawahan—yang terilhami dari motif tenun Lombok. Untuk atasan, Major Minor membuat sebuah busana berpotongan lebar berwarna bone white dengan motif keker tiga dimensi. “Kami menggunakan teknik ikat, lalu disulam dengan tangan untuk menimbulkan efek tiga dimensi,” kata Sari.

    Padu-padan busana musim semi tampaknya kurang afdol jika belum menggunakan midi skirt. Karena itu, Major Minor memadukan atasan keker dengan midi skirt kuning bermotif flower of love, yang diambil dari tenun Lombok. Motif ini samar-samar terlihat tegas di balik warna kuning pekat.

    Dalam pengerjaannya, kedua label lulusan Indonesia Fashion Forward ini mengawinkan teknik tenun tradisional dengan teknologi modern. “Dengan teknologi modern dari pabrik di Solo, kemungkinan tercpita cool wool lebih cepat dan wol kami sangat light. Cocok untuk spring/summer,” kata Sari. Lalu, mereka menggandeng penenun tradisional dari Garut untuk menenun benang dari serat wol menjadi kain.

    Garut, menurut Sari, dipilih lantaran penenun di sana sangat konsisten menjaga kualitas dan kuantitas yang diinginkan pasar internasional. Sedangkan Toton berpendapat, penenun di Garut lebih bisa beradaptasi dan terbuka dengan dinamika fashion modern. “Mereka, misalnya, bisa memodifikasi dengan teknik Bali tanpa membuang ciri khas serta kualitasnya,” ujarnya.

    Kejahilan dua label mengutak-atik serat wol ini bukan tanpa sebab. Keduanya mewakili Indonesia dalam International Woolmark Prize (IWP) kategori busana wanita ronde Asia. Syarat utama dalam perhelatan ini adalah proporsi penggunaan serat wol pada busana minimal 80 persen.

    Meski baru pertama kali mengikuti IWP dan asing dengan serat wol, Indonesia keluar sebagai juara ronde Asia. Pada 12 Juli 2016, Toton memenangi kategori busana wanita. Jurinya desainer Christopher Raeburn, Juun J., Fiona Kotur, konsultan mode berpengaruh di Hong Kong, Priscilla I’Anson, dan pemimpin redaksi GQ Style Cina, Cui Dan.

    Yang dinilai bukan hanya busana akhir, tapi juga asal serat, pengolahan, sampai strategi bisnis. “Bukan sekadar lomba desain, tapi whole packages yang mereka cari. Jadi, selain desain yang bagus, dari segi bisnis harus matang,” tutur Toton.

    Busana yang mengantarkan Toton menjadi juara IWP terilhami dari Goa Leang-leang di perbukitan kapur Maros-Pangkep, Makassar. “Wol dan tenun sama-sama memiliki sejarah panjang. Dua sejarah itu dikawinkan dengan kebudayaan Indonesia. Lukisan tangan di Gua Leang-leang menjadi awal sejarah Indonesia,” tutur Toton. Dia mengaplikasikan warna lukisan tangan manusia purba tersebut ke dalam busana.

    Toton juga terinspirasi isu feminisme yang kian menguat belakangan ini. Karena itu, dia merancang busana wanita dari busana khusus untuk para raja, yang notabene digunakan pria. “Perempuan butuh empowering, tak ada salahnya mens wear direngkuh oleh wanita modern,” ujarnya. Busana ini 80 persen menggunakan serat wol merino, serat wol terbaik saat ini.

    Hasilnya, sepaket busana ivory-peach lengkap—atasan dan bawahan—bergaya maskulin membuat Toton tampil mewakili Asia-Pasifik dalam IWP ronde final di Paris, tahun depan. Jika menang, Toton akan sejajar dengan Yves Saint Laurent dan Karl Lagerfeld, pendahulunya dalam kontes yang sudah diadakan sejak 1950 ini. Koleksinya juga akan dijual ke negara-negara mode di dunia. “Kami berharap, Toton bisa jadi juara dunia dalam ronde final di Paris,” kata Stephen Barraclough, staf Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.

    DINI PRAMITA

    Berita lainnya:
    4 Tanda Pekerjaan Merusak Percintaan
    Pizza Andaliman, Gaya Italia untuk Lidah Batak
    Ayah Juga Bisa Terkena Baby Blues, Bagaimana Mengatasinya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.