Konflik Keluarga Picu Remaja Putri Lakukan Diet Ekstrim

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi makanan manis. Shutterstock.com

    Ilustrasi makanan manis. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penampilan menarik merupakan sebuah kebutuhan bagi remaja. Remaja yang masih dalam proses pencarian jati diri cenderung ingin tampil memikat untuk menunjang pergaulannya.

    Itulah mengapa banyak orang mulai mengenal program diet sejak usia remaja. Kebanyakan program diet dilakukan oleh remaja perempuan, dan tak sedikit dari mereka yang menjalankannya dengan sangat ketat.

    Banyak remaja putri yang ‘mati-matian’ menghitung asupan kalori, sengaja melewatkan waktu makan, dan mengonsumsi obat pelangsing. Semua dilakukan semata untuk tampil prima sesuai standar langsing yang benar menurut publik.

    Nah, jika Anda adalah orang tua yang memiliki remaja putri yang gemar melakukan diet ketat, sebaiknya berhati-hati. Sebab, sebuah penelitian mengungkapkan tren diet berisiko tinggi di kalangan remaja terkait erat dengan gejala depresi dan ekses dari konflik keluarga.

    Peneliti dari University of Queensland, Adrian B. Kelly, mengatakan ada banyak faktor yang memiliki hubungan erat dengan perilaku diet berbahaya di kalangan remaja. Kebanyakan disebabkan oleh tayangan di media, desakan sosial, dan tekanan dari orang tua/keluarga. “Studi yang saya lakukan meneliti adanya hubungan antara kondisi emosional sebuah keluarga dan kecenderungan seorang remaja putri dalam melakukan diet berisiko tinggi,” jelasnya, dikutip dari Reuters.

    Adrian meneliti 4.000 remaja putri dari usia 11-14 tahun di 231 sekolah negeri di Australia. Mereka diminta menjawab kuesioner mengenai perilaku spesifik seperti menghitung kalori, mengurangi kuantitas asupan, atau melewati jam makan untuk mengendalikan berat badan.

    Mereka ditanya seberapa sering mereka melakukan hal-hal tersebut; apakah jarang, tidak pernah, atau hampir selalu. Para responden juga ditanya mengenai kondisi mood dan perasaan mereka, termasuk kedekatan dengan orang tua dan kondisi konflik di rumah.

    Para gadis belia tersebut diminta menggambarkan tiga hal tentang konflik di rumah mereka. Misalnya, apakah anggota keluarga di rumah sering berteriak atau menggunakan kata-kata kasar satu sama lain. Hasilnya, para remaja dengan tingkat konflik paling parah di rumahnya ternyata lebih bertendensi melakukan diet berisiko tinggi dan merasa depresi, ketimbang mereka yang kondisi keluarganya relatif ‘baik-baik saja’.

    Menurut Adrian, hal tersebut menjelaskan adanya kaitan antara kondisi keluarga dengan perilaku makan seorang remaja. Indikator yang digunakan tidak hanya kondisi emosional, tetapi juga kondisi sosioekonomi keluarga dari remaja yang bersangkutan.

    Ternyata, faktor pubertas dan kondisi sosioekonomi (berdasarkan pekerjaan orang tua responden) memiliki andil dalam pola diet seorang remaja. Gadis dari keluarga berstatus ekonomi rendah cenderung mengalami puber lebih awal, yaitu usia 11 tahun atau kurang. “Mereka juga cenderung melakukan praktik diet berbahaya. Studi ini mencari solusi untuk mengurangi dampak negatif tekanan dan konflik keluarga terhadap kondisi emosional seorang remaja, yang tercermin dari pola makannya,” kata Adrian.

    Bagaimanapun, dia menegaskan studi tersebut tidak membuktikan apakah konflik keluarga menyebabkan perilaku diet berisiko. Studi tersebut hanya menggarisbawahi adanya hubungan di antara masalah keluarga dengan perilaku diet menyimpang pada remaja.

    Kepala Departemen Kesehatan Psikologi Deakin University Geelong, John Toumbourou, menjelaskan studi tersebut menjelaskan mengapa tren diet berbahaya begitu marak di kalangan remaja putri saat ini. “Dampak dari konflik keluarga terhadap diet di kalangan remaja sebenarnya bisa dimediasi dengan mengatasi gejala depresi pada anak sejak dini. Ini adalah upaya krusial untuk mencegah para remaja putri mengalami eating disorder,” katanya.

    Belajar dari studi yang dikembangkan di Australia tersebut, ada baiknya para orang tua yang memiliki anak remaja mulai mewaspadai pola makan buah hatinya. Jika diketahui adanya geala-gejala eating disorder, segera lakukan penanganan sedini mungkin.

    Selain itu, jika anak kedapatan melakukan diet berisiko tinggi, ada baiknya orang tua turut introspeksi diri dan mengajak ngobrol dari hati ke hati dengan buah hatinya. Jangan-jangan perilaku merusak kesehatan tersebut bercikal dari timbunan masalah dari dalam keluarga. 

    BISNIS

    Berita lainnya:
    Orang Tua Aneh di Italia Terapkan Diet Vegetarian pada Bayi
    Khasiat Kunyit untuk Diet, Kecantikan, dan Kesehatan
    Susah Diet Vegetarian? Coba Diet Flexitarian


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.