Leonika dan Bank Darah di Jagat Maya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Leonika Sari Njoto Boedioetomo. TEMPO/Ijar Karim

    Leonika Sari Njoto Boedioetomo. TEMPO/Ijar Karim

    TEMPO.CO, Jakarta - Leonika Sari Njoto Boedioetomo agaknya menjadi sosok langka di Indonesia. Saat sebagian besar orang terpukau oleh gelimang bisnis berbasis Internet, dara asal Surabaya ini malah menjadikan jagat maya ladang amal.

    Tak mengherankan, pada usia 22 tahun, Leonika masuk daftar tokoh muda berpengaruh versi Forbes Asia karena dinilai memberikan inspirasi dan kebaikan. Penghargaan ini ia peroleh setelah membuat Reblood, situs dan aplikasi online yang menghubungkan calon pendonor darah dengan berbagai kegiatan. Reblood memuat acara donor darah sekaligus memberikan informasi lain yang diperlukan pendonor.

    Ketertarikan Leonika membuat Reblood berawal dari kegelisahannya melihat banyak kasus kekurangan stok darah. Menurut dia, rata-rata setahun terjadi kekurangan 1 juta kantong darah. Padahal banyak yang sebenarnya ingin menjadi donor. "Saya pun berpikir untuk membuat aplikasi yang menghubungkan mereka," kata putri tunggal pasangan Agoes Tjahjo dan Meinita Sari ini.

    Ceritanya membuat Reblood dimulai pada 2013. Ketika itu, Leonika diajak bergabung dengan senior-seniornya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya untuk memperkuat tim Blood Bank Information System (Bloobis). Bloobis adalah aplikasi yang menghubungkan Palang Merah Indonesia dengan rumah sakit untuk mempercepat distribusi darah. Namun aplikasi itu tidak berkembang lantaran sebagian pembuatnya kemudian lulus kuliah dan bekerja.

    Melihat kenyataan itu, terpikir oleh Leonika pembuatan Reblood, pengganti Bloobis. Pada awal 2014, Leonika mendapatkan beasiswa online course entrepreneurship yang diadakan Massachusetts Institute of Technology (MIT) bekerja sama dengan Harvard University, Amerika Serikat. Dalam pelatihan bernama MITx Global Entrepreneurship Bootcamp, Leonika mendapat banyak masukan tentang bagaimana mengembangkan Reblood.

    Sepulang dari Negeri Abang Sam, Leonika meluncurkan versi beta Reblood, tepatnya pada September 2015. Selain berisi daftar kegiatan donor, aplikasi ini memuat informasi agar orang siap ketika hendak mendonorkan darah.

    Reblood pun berpentas, dari acara kampus hingga forum-forum besar. Dalam acara Startup Sprint Surabaya, Januari 2016, Reblood masuk tiga besar dan berhak mendapat hadiah dana pengembangan Rp 50 juta.

    Salah satu pengguna Reblood, Andy Novian Ragiltya, mengaku mendapat kemudahan untuk mendonorkan darah setiap tiga bulan. Ada juga fitur reward atau hadiah setelah mengumpulkan poin. “Lumayan, dapat voucher Rp 50 ribu di Bukalapak," kata pria 22 tahun itu.

    Cerita sukses Reblood ini membuat Leonika mantap mengembangkan aplikasi ini. "Saya sekarang full time bekerja untuk Reblood," kata dia, yang awalnya bercita-cita menjadi dokter.

    TITO SIANIPAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.