5 Penyebab Orang Enggan ke Psikolog ketika Depresi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi remaja sedang konsultasi dokter. shutterstock.com

    Ilustrasi remaja sedang konsultasi dokter. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah penderita depresi di Indonesia berpotensi meningkat di 2021, terutama karena pademi Covid-19. Namun, masih banyak orang yang tidak ingin atau mampu pergi ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai masalah atau gangguan mental yang dimilikinya.

    Alasannya beragam, dari stigma sosial hingga masalah biaya. Dikutip dari siaran resmi Riliv, Senin, 2 Agustus 2021, inilah lima alasan orang masih ragu ke psikolog. 

    1. Stigma sosial dalam masyarakat

    Masyarakat Indonesia menganggap gangguan jiwa sebagai sesuatu yang tabu. Kebanyakan dari mereka tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain sebagai seseorang dengan perilaku yang menyimpang dari norma sosial.

    Psikolog dari aplikasi konseling online Riliv, Della Nova Nusantara, mengatakan, gangguan kesehatan mental itu bukanlah hal yang tabu, bukan pula aib. Sama seperti saat fisik kita kalau sedang terluka, capek, kadang butuh istirahat, butuh treatment yang tepat sesuai dengan kebutuhannya saat itu. "Begitu juga dengan kesehatan mental diperlukan treatment yang tepat untuk menjaga kesehatannya," kata dia. 

    2. Kurangnya pemahaman kesehatan mental

    Anggapan bahwa gangguan mental itu tabu menandakan kesadaran orang Indonesia yang masih rendah tentang kesehatan mental. Biasanya, hal ini ditunjukkan dengan orang-orang yang menyepelekan gangguan mental, karena tidak bisa dilihat secara gamblang layaknya penyakit fisik.

    Kenyataannya, penyakit mental dan fisik sama-sama menimbulkan rasa sakit kepada penderitanya. Bahkan, dalam beberapa kasus, penyakit mental lebih mungkin untuk mengancam nyawa seseorang.

    3. Ketakutan tersendiri

    Bagi sebagian orang, pergi ke psikolog adalah keputusan yang besar. Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa aku terlalu berlebihan, ya?” dan “Bagaimana kalau psikolog-nya tidak membantuku?”

    Ketika mulai ragu, yakinlah bahwa mencoba untuk pergi ke psikolog itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Menemukan psikolog yang cocok memang butuh waktu, tetapi setidaknya kamu akan berada selangkah lebih dekat dengan mengetahui apa yang terjadi dalam diri agar dapat membaik.

    4. Minimnya akses psikolog

    Menurut Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), jumlah psikolog klinis yang ada saat ini adalah 3.232 yang terpusat di pulau Jawa. Jumlah ini bisa dibilang sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki 106.500 psikolog. Aplikasi konseling psikologi daring bisa membantu masyarakat untuk mengakses layanan psikologi tanpa harus keluar rumah.

    5. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan

    Selain keterbatasan akses psikolog, faktor biaya juga harus dipertimbangkan. Tapi, BPJS Kesehatan atau asuransi lain bisa memberikan akses psikolog di rumah sakit terdekat. Ini bisa dimanfaatkan untuk berkonsultasi ketika depresi atau mengalami masalah kesehatan mental lainnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.