Hari Kartini, Retno Marsudi Terapkan Kesetaraan Mulai dari Keluarga

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mentri Luar Negeri Retno Marsudi saat menerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra dari Presiden Jokowi, Rabu 11 November 2020. Instagram.com/@retnomarsudi

    Mentri Luar Negeri Retno Marsudi saat menerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra dari Presiden Jokowi, Rabu 11 November 2020. Instagram.com/@retnomarsudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kartini mendambakan kesetaraan gender sejak lebih dari satu abad lalu. Di abad ini, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menerapkannya di dalam keluarga. Di keluarganya, tak ada pembagian tugas yang hanya khusus untuk perempuan atau laki-laki. 

    Hal itu diungkapkan Retno Marsudi saat berbincang-bincang dengan aktris Maudy Ayunda di Instagram Live untuk merayakan Hari Kartini, Rabu, 21 April 2021. Dalam bincang-bincang itu dia menceritakan cara menanamkan kesetaraan dalam keluarga, juga dukungan hingga dia menjadi seorang menteri. 

    Menurut Retno, dia diuntungkan datang dari keluarga demokratis yang sudah menerapkan kesetaraan. Hampir semua perempuan di keluarga besarnya memilih  bekerja di luar rumah. 

    "Saya sangat menghargai perempuan-perempuan yang memutuskan tinggal di rumah, konsentrasi untuk mendidik anak, karena mendidik anak adalah investasi yang sangat besar. Tapi yang memang memutuskan untuk keluar rumah, ini terjadi di keluarga besar saya," ujar dia. 

    ADVERTISEMENT

    Keluarga kecilnya sendiri pun melakukan hal yang sama. Ini dimulai dengan suaminya, Agus Marsudi, yang mendukung kariernya di Kementerian Luar Negeri. Lagi-lagi dia merasa diuntungkan karena dia dan suami, yang berpacaran selama tujuh tahun, sudah saling kenal. Suaminya juga yang dulu mengantarkan dia tes masuk Kemlu.

    Ketika kedua anak laki-lakinya, Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi, hadir, dia juga menerapkan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada pembagian tugas rumah, semua kerja tim. Siapa pun yang sedang bisa melakukan pekerjaan itu, maka akan dilakukan. Hanya ada tiga tugas yang tak bisa dibagikan ke suaminya, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. 

    "Sehingga kita merasa kalau teamwork ini jalan, insya Allah okelah. Nggak ada yang tabu dilakukan laki-laki dan tabu dilakukan perempuan. Sampai anak-anakku menikah, menantu-menantuku juga begitu. Jadi kami merasa kita semuanya sama," tutur perempuan berusia 58 tahun itu. 

    Baca juga: Hari Kartini Yanti Airlangga: Jadilah Kartini dalam Keluarga

    Dia mencontohkan, di keluarganya, pekerjaan di dapur tak harus dilakukan oleh perempuan. Bagas, anaknya yang seorang dokter, disebut ahli di dapur. Jadi, jika keluarganya sedang berkumpul, mereka meminta dibuatkan makanan khusus oleh sang anak. Dia juga tak segan belanja kebutuhan rumah. 

    "Jadi nggak ada pandangan di keluargaku kalau belanja harus perempuan. Anak-anakku, suamiku, kalau istrinya lagi pada sibuk, pergi ke warung, supermarket untuk belanja. Dan kita nggak akan jatuh harga (diri) kalau belanja," kata Retno.

    Retno Marsudi mengaku kagum pada Kartini yang sudah memiliki ide kesetaraan itu di zamannya, antara 1879 hingga 1904. 

    "Kebayang nggak, begitu majunya pemikiran beliau di masa itu. Jadi setiap kali kita peringati Hari Kartini, yang kebayang dibenakku adalah pertama, dia perempuan hebat; kedua, dia perempuan yang berani, dalam tradisi seperti itu, menyuarakan pendapatnya," ujar Retno Marsudi.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Ganda Putri Indonesia Masuk Semifinal Olimpiade Pertama dalam Sejarah

    Pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, lolos ke semifinal badminton di Olimpiade 2020. Prestasi itu jadi tonggak olahraga Indonesia.