Wanita Rentan Terserang Coronaphobia, Kenali Gejala Takut Tertular Covid-19

Reporter

Editor

Yunia Pratiwi

Ilustrasi wanita memakai masker. Freepik.com/Svetlanasokolova

TEMPO.CO, Jakarta - COVID-19 tidak hanya berdampak besar pada kesehatan fisik kita tetapi juga mengganggu kesehatan mental dan kesejahteraan kita. Sementara dokter dan profesional medis telah bekerja sangat keras untuk mempelajari berbagai gejala dan tanda COVID-19, hanya penelitian skala kecil yang telah dilakukan untuk menganalisis implikasi pandemi pada tingkat kecemasan dan stres masyarakat.

Konon, selama masa-masa ketakutan seperti itu, ketika Anda tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah batuk, pilek atau demam Anda adalah tanda COVID atau tidak, para ilmuwan telah menciptakan istilah yang disebut 'Coronaphobia' yang secara khusus terkait dengan pemicu kecemasan Covid-19.

Apa itu Coronaphobia?

Melansir laman Times of India, seperti diketahui, fobia adalah keadaan ketakutan yang terkait dengan berbagai aspek kehidupan dan situasi. Demikian pula, coronaphobia adalah jenis fobia baru yang secara khusus terkait dengan virus corona. Setelah mengamati dan mempelajari banyak penelitian, para ilmuwan mendefinisikan coronaphobia sebagai "respons yang dipicu secara berlebihan karena takut tertular virus yang menyebabkan COVID-19, yang menyebabkan kekhawatiran berlebihan yang disertai gejala fisiologis, stres yang signifikan tentang kehilangan pribadi dan pekerjaan, peningkatan kepastian dan perilaku mencari keamanan, menghindari tempat dan situasi umum, menyebabkan gangguan nyata dalam fungsi kehidupan sehari-hari."

Sesuai sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Asian Journal of Psychiatry pada Desember 2020, para ahli telah menemukan tiga karakteristik utama dari kecemasan yang muncul dari teror COVID-19. Berikut ini adalah beberapa gejala yang terkait.

- Kekhawatiran terus menerus yang menyebabkan jantung berdebar-debar, kehilangan nafsu makan dan pusing.

- Terlalu banyak berpikir yang terus menerus memicu ketakutan dan kekhawatiran.

- Rasa takut untuk menghadiri pertemuan dan acara publik. Semacam perilaku anti-sosial yang dapat memfasilitasi masalah kecemasan dan isolasi lebih lanjut.

Menurut laporan terbaru yang diterbitkan online di jurnal Frontiers in Global Women's Health, gejala insomnia, depresi, dan kecemasan lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Dengan laporan akhir serupa dalam penelitiannya, Dr. Lily Brown PhD, direktur Penn Center for the Treatment and Study of Anxiety percaya wanita lebih rentan terhadap kecemasan daripada pria, mengingat kekhawatiran terkait anggota keluarga yang sakit atau diri mereka sendiri menyebarkan virus ke orang lain. Brown juga menemukan bahwa orang yang lebih muda telah mengalami peningkatan kecemasan karena virus serta jenis pandemi yang terjadi belakangan ini.

Cara menangani coronaphobia

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menyarankan berbagai cara untuk mengatasi masalah kecemasan dan stres coronaphobia. Ini mendorong menjaga kesehatan fisik seseorang dan juga bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, terapi perilaku kognitif terbukti dapat mengatasi kecemasan secara efektif dan efisien. Sementara dengan kemunculan vaksin, kecemasan mungkin sedikit berkurang, tetapi ketakutan dan fobia masih membayangi kepala kita. Satu-satunya cara Anda bisa mengatasinya melalui pengendalian diri dan dengan menjaga rasa tenang.






Minat Wisatawan Asing Melancong ke Indonesia Naik 36 Persen

28 menit lalu

Minat Wisatawan Asing Melancong ke Indonesia Naik 36 Persen

Berdasarkan data Google Destination Insight, minat kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia naik 36 persen pada rentang Juni-Agustus.


Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

21 jam lalu

Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

Pakar menjelaskan batuk kronik berkepanjangan hingga beberapa bulan dapat mengindikasikan penyintas mengalami long COVID-19.


Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

1 hari lalu

Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

Warga China minta para ahli epidemi berbicara dan pemerintah melakukan penelitian komprehensif dan transparan untuk meninjau kebijakan nol Covid.


Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

1 hari lalu

Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

Pemerintah resmi membuka penawaran ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia) seri ORI022 mulai hari ini, Senin, 26 September 2022 pukul 09.35 WIB.


Alasan Klasik Wanita Pantang PDKT ke Pria Terlebih Dulu

1 hari lalu

Alasan Klasik Wanita Pantang PDKT ke Pria Terlebih Dulu

Banyak yang menganggap tak wajar jika wanita lebih dulu mendekati atau PDKT ke pria di zaman sekarang. Benarkah demikian?


CEO Pfizer Kena Covid-19 Lagi

2 hari lalu

CEO Pfizer Kena Covid-19 Lagi

CEO Pfizer Inc, Albert Bourla, pada Sabtu, 24 September 2022, mengumumkan positif Covid-19 untuk kedua kalinya.


Ketika Undangan Bela Negara Rusia untuk Orang yang Sudah Mati

2 hari lalu

Ketika Undangan Bela Negara Rusia untuk Orang yang Sudah Mati

Presiden Putin memerintahkan wajib militer bagi warga untuk berperang membela Rusia di Ukraina, tapi panggilan dinilai hanya untuk warga daerah miskin


UNWTO: Sektor Pariwisata Pulih 2022 Setelah Pandemi

3 hari lalu

UNWTO: Sektor Pariwisata Pulih 2022 Setelah Pandemi

UNWTO mencatat pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.


Hong Kong Hapus Kewajiban Karantina di Hotel, Cukup Tes Antigen

3 hari lalu

Hong Kong Hapus Kewajiban Karantina di Hotel, Cukup Tes Antigen

Hong Kong akan menghapus kebijakan wajib karantina hotel Covid-19 untuk semua kedatangan mulai 26 September 2022


4 Risiko Intermittent Fasting yang Dialami Wanita

4 hari lalu

4 Risiko Intermittent Fasting yang Dialami Wanita

Ada beberapa alasan intermittent fasting mungkin bukan yang terbaik untuk wanita