Belajar dari Rumah, Ini Saran Pakar untuk Pendidikan Kognitif dan Karakter Anak

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak belajar. Shutterstock

    Ilustrasi anak belajar. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembukaan sekolah di masa pandemi Covid-19 di beberapa daerah kemungkinan ditunda mengingat melonjaknya kasus baru. Banyak orang tua yang cemas, tapi proses belajar anak harus terus berjalan. 

    Dosen Magister Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Khasanah, mengatakan belajar dari rumah atau sekolah, proses pendidikan anak terus berlangsung. Yang membedakan adalah tempat mereka belajar dan dengan siapa mereka belajar.

    Ia mengatakan, orang tua perlu memperhatikan periode perkembangan anak yang sangat sensitif yaitu saat usia 1-5 tahun. Disebut periode emas, pada masa ini seluruh aspek perkembangan kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual mengalami perkembangan yang luar biasa sehingga yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan selanjutnya.

    "Belajar tidak hanya sebagai proses meningkatkan pemahaman kognitif dan intelektual semata, namun juga mencakup penanaman sikap dan nilai-nilai moral/karakter," kata Khasanah. 

    Pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan
    kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

    Sebelum karakter negatif melekat pada anak-anak kita yaitu pada usia 14 tahun, mari kita peduli dengan anak-anak. Lewat dari usia itu maka akan sulit kita ubah karakter mereka, begitu kata sebagian ahli.

    Di periode anak usia sekolah semua informasi akan terserap dengan cepat. Mereka menjadi peniru yang andal, lebih cerdas dari yang terlihat dan akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, dan kemampuan kognitifnya.

    Dalam pola pikir, pendidikan harus mampu membantu anak dalam mengatur kecepatan bermainnya, mengolah strategi dalam permainan media komunikasi sosial meningkatkan kemampuan otak kanan anak selama dalam pengawasan yang baik.

    Akan tetapi di balik kelebihan tersebut lebih dominan pada dampak negatif yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.

    Menurut Khasanah, yang harus diwaspadai guru maupun orang tua yaitu: 

    1. Ketika keasyikan dengan gadget anak jadi kehilangan minat dalam kegiatan lain.
    2. Anak tidak lagi suka bergaul atau bermain di luar rumah dengan teman sebaya.
    3. Anak cenderung bersikap membela diri dan marah ketika ada upaya untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan gawai.
    4. Anak berani berbohong atau mencuri-curi waktu untuk bermain gadget.
    5. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bahwa mereka sedang membutuhkan bantuan dalam menghentikan aktivitasnya dengan kecanduan bermain gadget.

    Membentuk anak berkarakter di haruskan adanya rekayasa lingkungan di mana anak berada. Mulailah kita rencakan lingkungan yang baik buat menumbuhkan kemampuan natural anak kita yang mulai muncul dalam diri anak.

    Beri kesempatan pada anak untuk punya ruang eksplorasi sehingga mereka jadi kreatif, dapat menciptakan banyak hal buat kecakapan hidupnya.

    "Pahamilah jika sumber belajar tak hanya dari orang tua dan guru tetapi juga lingkungan dan media sosial," ujar Khasanah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Mengurus Pasien Covid-19 di Rumah

    Pasien positif Covid-19 yang hanya mempunyai gejala ringan dapat melakukan isolasi di rumah.