Sedang Diet Tak Tahan Lapar, Coba Minum Air Putih dan 6 Cara Ini

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita minuma air mineral atau air putih. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita minuma air mineral atau air putih. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi yang sedang diet tentu tak mudah untuk menahan rasa lapar. Terlebih jika melihat hidangan yang lezat dan menggoda untuk disantap. Tapi ingatlah bahwa memiliki berat badan yang ideal bermanfaat bagi kesehatan dan penampilan.

    Sebab itu, Anda pun harus disiplin dalam menjaga pola makan agar tidak berlebihan, terutama saat lapar menyerang. Tak perlu khawatir ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menahan lapar dengan efektif. 

    Berikut cara menahan lapar dengan efektif yang bisa Anda coba

    1. Minum air putih

    Cara menahan lapar ini paling mudah dilakukan. Minum air putih dapat membantu menahan rasa lapar sebelum makan. Penelitian menunjukkan bahwa minum dua gelas air sebelum makan bisa membuat Anda makan dengan porsi yang lebih sedikit daripada yang tidak minum. Selain itu, minum air putih juga dapat meningkatkan perasaan kenyang setelah makan dan mendorong penurunan berat badan.

    2. Cokelat hitam

    ADVERTISEMENT

    Rasa pahit cokelat hitam dianggap dapat membantu mengurangi nafsu makan dan keinginan untuk makan makanan yang manis. Para peneliti percaya bahwa asam stearat dalam cokelat hitam dapat memperlambat pencernaan sehingga meningkatkan perasaan kenyang dan membantu menahan lapar. Bahkan, hanya mencium aromanya saja bisa memberi efek yang sama. Satu studi mengamati bahwa mencium aroma cokelat hitam bisa menurunkan nafsu makan dan hormon rasa lapar sebanyak 85 persen.

    3. Jeruk

    Anda dapat menahan rasa lapar dengan mengonsumsi jeruk. Penelitian menunjukkan bahwa asupan berkalori rendah yang kaya serat tersebut bisa membantu Anda merasa cepat kenyang dan menjaga gula darah tetap stabil. Hal ini bisa membuat kontrol nafsu makan Anda menjadi lebih baik.

    4. Minum kopi

    Minum kopi dapat membantu Anda menahan rasa lapar. Penelitian menunjukkan bahwa kopi mendorong pelepasan hormon peptida (YPP) yang dapat meningkatkan perasaan kenyang sehingga Anda tidak akan makan secara berlebihan nantinya. 

    Selain itu, kopi tanpa kafein juga dapat mengurangi rasa lapar dengan efek yang bertahan hingga 3 jam lamanya setelah dikonsumsi. Namun, pastikan Anda tidak memiliki penyakit yang berkaitan dengan peningkatan asam lambung seperti GERD, maag, maupun dispepsia.

    5. Olahraga

    Olahraga dianggap dapat mengurangi aktivitas area otak yang terkait dengan keinginan untuk makan sehingga mengakibatkan keinginan tersebut menjadi lebih rendah. Selain itu, olahraga juga dapat mengurangi kadar hormon rasa lapar dan meningkatkan perasaan kenyang. Penelitian pun menunjukkan bahwa olahraga aerobik efektif untuk mengurangi kadar hormon tersebut dan porsi makan selanjutnya.

    6. Tidur cukup

    Tidur dengan cukup dapat membantu mengurangi rasa lapar. Hal ini berbanding terbalik dengan kurang tidur. Studi menunjukkan bahwa kurang tidur justru bisa meningkatkan lapar dan nafsu makan hingga 24%. Bahkan tidur kurang dari 6 jam per malam juga dikaitkan dengan risiko obesitas hingga 55% lebih tinggi.

    7. Camilan kaya protein

    Camilan berprotein tinggi dapat meningkatkan perasaan kenyang dan mengurangi asupan kalori total pada jam makan berikutnya. Misalnya, yogurt tinggi protein lebih efektif dalam mengurangi lapar daripada biskuit atau cokelat tinggi lemak. Jika dikonsumsi di sore hari juga bisa membantu Anda makan malam dengan kalori yang lebih sedikit.

    Berbagai cara di atas dapat membantu Anda menahan rasa lapar dari keinginan untuk makan. Ketika hasrat tersebut dapat dikendalikan, maka Anda akan terhindar dari makan secara berlebihan. Namun, pastikan untuk tidak menahan rasa lapar dengan ekstrim karena bisa berbahaya bagi kesehatan Anda.

    SEHATQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?