Ashanty Serbasalah jadi Ibu Sambung, Simak kata Pakar

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aurel Hermasnyah dan Ashanty. Instagram/aurelie,hermansyah

    Aurel Hermasnyah dan Ashanty. Instagram/aurelie,hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjalani peran menjadi seorang ibu sambung memang tidak mudah. Perasaan itulah yang dialami penyanyi Ashanty. Perempuan kelahiran 4 November 1984 ini mengatakan tak mudah berperan jadi ibu sambung bagi anak-anak, terlebih saat ini Aurel dan Azriel Hermansyah beranjak dewasa.

    Ashanty mengungkapkan, di awal pernikahannya pada 2002 ia pernah merasa serbasalah. "Hamil salah, enggak hamil salah, sementara saya harus mengisi kekosongan peran ibu bagi dua anak di rumah itu," ucapnya di podcast Deddy Corbuzier, Kamis, 25 Juni 2020. 

    Ashanty mengungkapkan bahwa dia tak ingin menggantikan posisi ibu kandung bagi dua anak yang saat itu berangkat remaja. "Mereka punya ibu yang melahirkan, saya hanya menempati peran ibu di rumah itu, tapi saya sendiri belum pengalaman mengurus anak-anak," ujarnya.

    Pelantun lagu "Luar Biasa" ini sebenarnya tidak ingin menikah dengan duda, apalagi yang memiliki anak. Dia juga tidak setuju dengan keharusan menerima anak-anak ketika menjadi ibu tiri.  

    ADVERTISEMENT

    “Aku gak mau ada keharusan itu, dulu kenapa aku mau nikahin Mas Anang, karena aku juga jatuh cinta sama anak-anaknya,” katanya.

    Lantas, bagaimana peran menjadi ibu sambung bisa dijalani dengan baik? Menurut psikolog Nuzulia Rahma Tristinarum, menjadi ibu sambung tentu bukanlah peran yang mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi.

    Sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keluarga barunya. Misalnya jika dalam keluarga tersebut usia anak-anaknya sudah remaja atau bahkan dewasa, berperanlah sebagai ibu yang bisa jadi sahabat anak-anak remaja namun tetap mengayomi.

    "Jika anak anak masih kecil, maka ibu sambung bisa berperan sebagai ibu yang mengasuh dan mendidik anak-anak. Usia anak-anak mempengaruhi bagaimana seharusnya seorang ibu sambung memposisikan diri," ucapnya kepada Tempo, Jumat, 26 Juni 2020.

    Yang perlu diingat, lanjut Nuzulia, seorang ibu sambung tak perlu merasa harus menggantikan posisi ibu kandung karena jika seperti itu nanti akan menjadi beban berat secara psikologis bagi ibu sambung dan anak-anak.

    Baca: Aurel - Ashanty, Momen Kedekatan Ibu Sambung dan Anak Perempuan

    Peran ibu sambung tentu sangat berarti jika mampu menempatkan diri dengan tepat ke dalam keluarga barunya. Jalani semua dengan fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi keluarga barunya.

    "Bahkan seorang ibu sambung dapat menjadi sangat berperan dan sangat berarti di keluarga baru tersebut jika ia memainkan perannya dengan tepat. Tidak harus sempurna, tetapi tepat sesuai kondisi," ungkapnya.

    Menurut Nuzulia, ada beberapa hal penting agar dapat lebih mudah saat menjadi ibu sambung, diantaranya adalah:

    1. Minta kerja sama (calon) suami untuk menjelaskan pada anak anaknya sebelum ibu sambung masuk dalam keluarga sehingga anak anak diberi waktu untuk mengenal dan menerima.

    2. Jangan memaksakan diri masuk dan berharap besar untuk diterima ke dalam keluarga baru. Lakukan dan jalankan peran dengan lembut dan mengalir. Beri waktu pada keluarga baru untuk bisa mengenal dan menerima keadaan yang berbeda dari sebelumnya.

    3. Pahami tentang tahap perkembangan anak secara psikologis sehingga ibu sambung dapat masuk dan berperan dengan tepat. Pahami juga kondisi psikologis suami sebagai seorang ayah bagi anak anaknya.

    4. Saat sudah menjadi bagian dari keluarga, minta suami untuk sering mengadakan kegiatan bersama dalam satu keluarga sehingga bisa lebih saling mengenal.

    5. Latih hati untuk tetap tulus dan memiliki cinta yang besar. Biarkan hati yang berbicara. Apa yang dari hati, akan sampai ke hati juga.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.