Hiburan Selama Pandemi Covid-19, Pilih Drama Korea atau Masak?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Drama Korea The World of The Married. Instagram.com/@jtbcdrama

    Drama Korea The World of The Married. Instagram.com/@jtbcdrama

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga bulan berdiam diri di rumah karena pandemi Covid-19 membuat orang mencari hiburan yang bisa dilakukan tanpa menjejakkan kaki ke luar. Pada April lalu, Netflix mencatat lonjakan pertumbuhan 15,8 juta pengguna selama tiga bulan pertama 2020 berkat karantina di rumah.

    Menonton film dan serial adalah pelipur lara bagi sebagian orang selama berada di rumah saat pandemi COVID-19. Termasuk drama Korea Selatan.

    "Kalau suntuk, aku nonton drama Korea dan sudah tamat beberapa judul, karena episodenya panjang-panjang," kata pegawai negeri sipil Lydia Agustina kepada Antara.

    Drama Korea umumnya terdiri dari belasan episode, tiap episode berdurasi sekitar lebih dari satu jam.

    Lydia berpendapat, kerja dari rumah memberikannya keleluasaan untuk mengatur jadwal kerja sendiri yang lebih efektif. Dia bisa bebas dari distraksi yang membuat konsentrasi hilang begitu saja.

    Jika pandemi sudah berakhir, dia berharap pola kerja dari rumah bisa diadaptasi oleh pihak swasta, pemerintah hingga pelaku usaha meski tidak harus dilakukan setiap hari.

    "Setidaknya sehari dalam seminggu, banyak hal dari rumah bisa dilakukan, tidak usah menghabiskan anggaran buat rapat. Yang tidak efisien bisa banyak dipotong dengan WFH," kata dia.

    Drama Korea juga sukses mencuri hati pekerja lepas Fidella Anandhita. Dia dulu jarang menonton serial Negeri Ginseng. Saat pandemi, dia mulai menonton drama serta acara ragam Korea Selatan yang bertebaran di platform streaming.

    "Aku sekarang jadi nonton drama Korea, juga 'Running Man'," Fidella menyebut salah satu acara ragam dikenal penonton Indonesia, bahkan pemain di acara tersebut pernah menggelar jumpa penggemar di Jakarta.

    Pembatasan sosial yang membuat sebagian orang bekerja dari rumah tak cuma membuat Fidella bersentuhan dengan drama yang banyak digandrungi masyarakat, tapi peluang untuk menekuni banyak aktivitas dari rumah saja.

    Sebelum pandemi, ia rutin menari di studio. Rupanya pandemi tak berhasil menghentikan aktivitas yang dicintainya. Dia menciptakan pojok khusus menari di rumah sehingga bisa terus berlatih meski tak bisa ke studio.

    "Adikku bahkan bikin barre DIY (do it yourself) buat balet," ujar Della.

    Lewat teknologi, dia dan teman-temannya bisa tetap berlatih menari bersama-sama. Mereka mendapatkan video koreografi untuk berlatih masing-masing, lalu menari bersama ketika kelas berlangsung secara daring.

    Banyak hal yang ia sadari ternyata bisa dilakukan secara daring. Membuat lokakarya hingga meramal dengan kartu tarot.

    Game juga pelipur lara yang digandrungi orang-orang selama pandemi. Di Amerika Serikat, uang yang digelontorkan konsumen untuk membeli video game pada kuartal ini naik 9 persen, mencapai 10,9 miliar dolar AS, dibandingkan tahun sebelumnya.

    Elvina Wijaya baru mencicipi asyiknya game online setelah pandemi menerpa. Dia sengaja mencari permainan yang interaktif sehingga bisa sekalian bersosialisasi dengan teman.

    "Aku cari game, yang kalau malam bisa interaksi sama teman, termasuk Nintendo Switch, di dalamnya banyak mainan interaktif kayak 'Animal Crossing'."

    Permainan interaktif menjadi pilihan utamanya agar bisa terus terhubung dengan teman yang sudah lama tak ditemuinya akibat pembatasan sosial.

    Produktif

    Semakin lama waktu berlalu, masyarakat mulai menerima standard normal yang baru. Ruang gerak yang terbatas diatasi dengan kreativitas baru.

    Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa Leonardi Goenawan, masyarakat bisa menerima kenyataan baru ini setelah berhasil melewati tahap disrupsi --perubahan pola hidup-- dan tahap kebingungan.

    "Gaya hidup berdiam diri di rumah jadi hal lazim," kata Leonardi.

    Masyarakat yang terbiasa berdiam diri di rumah dapat memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal produktif.

    Hobi baru atau bakat terpendam dapat ditemukan selama masa pembatasan sosial. Adanya video tutorial memasak hingga berkebun yang bertebaran di internet mempermudah orang-orang untuk mengasah keahliannya

    Anadhya Setyowati kini tak pernah lagi memesan makanan. Semua makanan betul-betul diracik sendiri.

    "Setelah cek tabungan, lebih hemat selama pandemi, berkat tidak ada lagi wine and dine," ujar dia.

    Bahkan Anadhya mulai mencoba hobi baru, berkebun di dalam rumah. Pemandangan hijau dan menyejukkan dari tanaman di dalam rumah diyakini bisa menghilangkan penat. Prinsip ini dipegang juga oleh Sitaresti Andarini yang mulai menghiasi isi rumahnya dengan tanaman.

    "Biar di dalam rumah enggak suntuk-suntuk amat," kata dia.

    Berkutat di dapur jadi hobi baru untuk marketer yang sebelumnya hanya memasak makanan sederhana dan instan. Masakan khas Sumatera Barat seperti rendang hingga kare chicken katsu dan shabu-shabu sudah ia praktikkan sendiri.

    "Tadinya cuma bisa masak nasi sama mi instan," dia tertawa.

    Sementara Ifnur Hikmah yang aktif menulis di Wattpad mengaku lebih produktif setelah bekerja dari rumah. Ifnur yang bekerja sebagai editor konten biasanya hanya sempat menulis cerita baru di Wattpad pada akhir pekan.

    "Sekarang makin sering menulis, bisa setiap hari. Kalau habis kerja enggak bisa tidur, nulis lagi," kata dia mengenai produktivitas selama bekerja dari rumah.

    Satu hal baru yang ia mulai geluti adalah sesi pemotretan dari jarak jauh alias virtual photoshoot.

    "Aku lagi suka foto-foto, jadi aku sedang mengatur isi kamar, membuat satu spot khusus untuk foto," ungkap dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan RUU Perlindungan Data Pribadi

    Pembahasan RUU Perlindugan Data Pribadi sedianya sudah berjalan sejak tahun 2019. Namun sampai awal Juli 2020, pembahasan belum kunjung berakhir.