Grimes dan Elon Musk Terapkan Pola Asuh Netral Gender pada Anak

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Elon Musk dan Grimes tiba di Metropolitan Museum of Art Costume Institute Gala (Met Gala) (7/5/2018). REUTERS/Carlo Allegri (REUTERS/CARLO ALLEGRI)

    Elon Musk dan Grimes tiba di Metropolitan Museum of Art Costume Institute Gala (Met Gala) (7/5/2018). REUTERS/Carlo Allegri (REUTERS/CARLO ALLEGRI)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi asal Kanada Grimes dan pengusaha Elon Musk dikaruniai anak laki-laki pada 5 Mei 2020. Anak tersebut diberi nama yang unik, X Æ A-12. Nama tersebut meramaikan media sosial. Semua orang menebak-nebak cara penyebutan dan maknanya. 

    Selain nama, ada hal menarik lain terkait anak pertama Grimes dan pendiri Tesla itu (Elon sebelumnya memiliki lima anak dari istri pertama), yaitu gaya parenting atau pengasuhan. Pasangan tersebut berencana mempraktikkan pola asuh yang netral gender untuk bayi mereka.

    Hal itu pernah diucapkan Grimes dalam sebuah wawancara. Dia mengatakan akan memilih pengasuhan yang netral gender untuk membesarkan keluarganya.

    "Saya tidak ingin mengelompokkan mereka dalam gender jika itu bukan perasaan dalam hidup mereka," kata Grimes dalam sebuah siaran langsung di YouTube pada Februari lalu.

    Gaya pengasuhan netral gender banyak diterapkan para selebriti beberapa tahun belakangan, dari Adele hingga Angelina Jolie. Orang tua yang mengikuti pola pengasuhan ini membesarkan anak bebas dari segala jenis norma atau stereotip gender, yaitu membiarkan anak seperti apa adanya tanpa memaksakan tekanan maskulin atau feminin.

    Psikolog Sandra Bem menulis tentang pengalamannya membesarkan anak-anaknya, Jeremy dan Emily, dengan cara yang netral gender dalam bukunya, An Unconventional Family. Pada 1960-an, Sandra Bem menikah dengan psikolog Daryl Bem, dan mereka ingin anak-anak mereka percaya bahwa satu-satunya perbedaan antara pria dan wanita adalah biologis.

    Sandra dan Daryl membiarkan anak-anak berpakaian seperti yang mereka sukai dan menyensor apa yang dibaca dan ditonton anak-anak mereka untuk meminimalkan paparan anak-anak terhadap stereotip gender. “Kami bergiliran memasak makanan, menyetir mobil, memandikan bayi, dan sebagainya, sehingga teladan orang tua kita sendiri tidak akan mengajarkan korelasi antara seks dan perilaku,” kata Sandra di buku itu.

    Gaya parenting netral gender tidak terbatas pada mainan atau pakaian yang diberikan kepada anak. Jika dilakukan dengan cara yang benar, para ahli mengatakan bahwa itu dapat mengasah kepribadian anak dengan cara yang baik.

    Pola asuh ini berfokus pada anak-anak menjauh dari peran gender. Sebagai gantinya, mereka belajar dan mengadaptasi keterampilan dan nilai-nilai yang baik tanpa batasan gender. Mereka harus memainkan peran dalam hal yang sama.

    Gaya pengasuhan ini juga bisa berarti mendorong anak untuk bermain, berpakaian, dan mengekspresikan diri mereka bebas dari harapan masyarakat. Orang tua yang mempraktikkan pendekatan pengasuhan anak ini melakukan panggilan sadar, berkomitmen pada pandangan liberal, tanpa menundukkan anak-anak mereka pada pilihan “untukmu” atau “bukan untukmu”.

    Beberapa mazhab parenting sama sekali tidak memaparkan anak pada mainan atau pakaian tertentu, sementara beberapa membiarkan anak untuk memutuskan gender mana yang benar-benar mereka hubungkan.

    Calon orang tua, setelah mengambil keputusan ini saat hamil, juga mengadakan pesta-pesta yang netral gender, tanpa harus mengungkapkan apakah akan menjadi laki-laki atau perempuan. Di Swedia, di mana gaya pengasuhan ini memiliki banyak peminat, sekolah juga telah memperkenalkan kata ganti baru "hen" bagi mereka yang tidak suka “him” atau “her”.

    Pengasuhan yang netral gender bukan hanya tentang pink atau biru, tapi ini adalah cara membuat anak mandiri sejak usia dini dan mempercayai mereka untuk membuat keputusan sendiri. Orang tua mencoba memaparkan anak-anak pada mainan dan hobi yang bersifat maskulin dan feminin. Di satu sisi, anak-anak tumbuh dengan berpikir bahwa satu-satunya perbedaan nyata antara anak-anak adalah perbedaan yang ada secara anatomis.

    Psikolog mengatakan bahwa tren ini dapat membantu membentuk masa depan mereka dengan cara yang lebih baik. Misalnya, tanpa bobot stereotip gender yang membebani mereka, anak perempuan dapat hidup tanpa menjadi subyek norma dan standar, sementara anak laki-laki dapat belajar untuk berurusan dengan emosi mereka tanpa disebut feminin.

    FORBES | TIMES OF INDIA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setelah Wabah Virus Corona, Pemerintah Kini Waspadai Flu Babi

    Di tengah wabah virus corona, pemerintah Indonesia kini mewaspadai temuan strain baru flu babi. Flu itu pertama kali disinggung pada 29 Juni 2020.