Masker Langka, Bolehkah Dipakai Lebih Lama atau Berulang Kali?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penggunaan masker, sebagai salah satu upaya penyebaran virus.

    Ilustrasi penggunaan masker, sebagai salah satu upaya penyebaran virus.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi virus corona baru atau Covid-19 membuat banyak orang yang berebut menggunakan masker, tidak hanya tenaga medis tetapi juga masyarakat umum. Akibatnya, masker menjadi barang yang langka. 

    Tak heran bila akhirnya, banyak yang menggunakan masker secara berulang. Namun, apakah penggunaannya akan tetap efektif jika digunakan berulang kali?

    Dikutip dari insider.com, ada dua jenis masker yang umum digunakan yaitu masker bedah dan respirator atau masker N95.

    Masker bedah dipakai untuk menghentikan penyebaran kuman dari dirinya ke orang lain, biasanya digunakan oleh ahli bedah untuk menjaga agar pasien tidak terkontaminasi oleh kuman yang ada pada dirinya.  Masker bedah juga dapat digunakan oleh pasien yang sakit untuk meminimalkan penyebaran penyakit dari partikel kecil yang terbatuk.

    Sementara itu, respirator N95, mampu menyaring 95 persen partikel di udara untuk meminimalkan paparan pemakai terhadap penyakit menular. Masker tersebut biasanya dikenakan oleh petugas kesehatan yang merawat orang sakit agar mereka tidak terinfeksi.

    Hans Rechsteiner, ahli bedah umum di Burnett Medical Center mengatakan, baik masker bedah maupun respirator N95 merupakan jenis masker sekali pakai.

    Memang ada respirator yang dapat digunakan kembali, tetapi umumnya tidak digunakan oleh para profesional medis. “Dalam keadaan normal, masker bedah ini akan dibuang ketika penyedia layanan kesehatan selesai merawat pasien yang terinfeksi,” terangnya.

    Namun, masifnya penyebaran virus corona, membuat banyak tim medis yang kekurangan masker bedah dan respirator N95. Karena itu, banyak profesional medis menggunakan kembali masker atau menggunakannya untuk seluruh shift daripada penggunaan tunggal yang mereka maksudkan.

    Untuk itu, Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit), atau CDC telah merilis pedoman untuk penggunaan masker pada saat jumlahnya langka.

    Organisasi tidak merekomendasikan masker pembersih, tetapi merekomendasikan praktik-praktik ini untuk penggunaan kembali yang aman.

    Pertama, masker bedah atau respirator N95 hanya boleh digunakan kembali oleh orang yang sama, tidak pernah dibagi di antara para profesional medis.

    Kedua, penggunaan yang lebih lama lebih baik daripada digunakan kembali, jadi lebih baik membiarkan respirator tetap terpasang untuk seluruh shift daripada melepaskannya.

    Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi orang menyentuh wajah mereka, yang justru berpotensi membiarkan virus masuk dalam tubuh mereka.

    Pedoman CDC mengatakan bahwa tidak ada cara untuk memprediksi jumlah penggunaan kembali yang aman, sehingga profesional medis harus menggunakan penilaian mereka.

    Ketiga, saat tidak digunakan, masker harus disimpan dalam wadah terbuka, seperti kantong kertas. Itulah tepatnya yang dilakukan beberapa dokter New York saat mereka berjuang mengatasi kekurangan masker.

    Berdasarkan penelitian, virus yang menyebabkan Covid-19 dapat hidup di permukaan hingga 72 jam. Karena itu, Rechsteiner mengatakan akan ideal untuk memiliki tiga masker wajah yang dapat digunakan setiap hari.

    "Jika Anda ingin lebih aman, gunakan tiga masker dan ganti setiap hari, biarkan masker itu pada area yang terbuka, baik untuk mengeringkan sementara sehingga virus mati. Karena kelangkaan di beberapa wilayah, saya percaya bahwa ini adalah praktik yang aman dan dapat diterima,” jelasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.