Peneliti Sebut Jarak 2 Meter Tidak Ideal Cegah Penyebaran Corona

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. Sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus Corona atau COVID-19, pemerintah telah memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan praktik

    Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. Sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus Corona atau COVID-19, pemerintah telah memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan praktik "social distancing" atau menjaga jarak sosial dalam kegiatan sehari-hari. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama pandemi corona, setiap orang dianjurkan untuk menjaga jarak fisik. Ahli kesehatan di seluruh dunia telah mendesak masyarakat untuk menjaga jarak dua meter dari orang lain untuk mencegah penyebaran Covid-19.

    Namun, ternyata menjaga jarak dua meter dari orang lain mungkin tidak cukup untuk menghentikan penyebaran virus corona, menurut laporan dari Massachusetts Institute of Technology. Laporan itu menunjukkan bahwa itu mungkin bukan jarak yang cukup jauh untuk memberikan perlindungan dari penyakit yang sangat menular.

    Dilansir dari www.metro.co.uk, menurut laporan itu, bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi di atmosfer yang lembap dan hangat dapat mengusir tetesan virus mikroskopis sejauh delapan meter dan tetesan itu dapat melayang di udara selama beberapa jam.

    Peneliti MIT mengatakan partikel virus telah ditemukan dalam sistem ventilasi kamar rumah sakit dengan pasien yang positif terkena virus corona. Para peneliti mengatakan temuan mereka sangat penting karena petugas kesehatan dan publik mungkin tidak menyadari bahwa mereka perlu memakai peralatan pelindung bahkan ketika tidak berada di dekat pasien yang terinfeksi.

    Penelitian Cina mengklaim telah menemukan bukti bahwa virus dapat bertahan dengan baik di air. Delapan orang jatuh sakit setelah seorang pria yang terinfeksi mengunjungi pemandian di Huaian, yang berjarak sekitar 700 kilometer dari Wuhan, kota yang diyakini berada di pusat wabah.

    Sementara, dikutip dari www.eenews.net, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan bahwa untuk kegiatan rekreasi air, tidak ada bukti bahwa COVID-19 dapat menyebar di kolam terbuka atau kolam air panas. Perawatan dan desinfeksi yang tepat untuk kedua kolam dan bak air panas dengan klorin dan bromin harusnya menghilangkan atau menonaktifkan virus.

    Pedoman tersebut mengkonfirmasi bahwa virus telah terdeteksi dalam tinja tetapi mengatakan tidak jelas berapa banyak risiko yang muncul dan apakah virus dapat menyebar melalui sistem pembuangan kotoran. "Pada saat ini, risiko penularan virus yang menyebabkan COVID-19 melalui sistem sewerage dianggap rendah," kata CDC.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.