Corona Hidup di Udara dan Permukaan, Paling Lama di Benda Ini

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi: tombol lift

    Ilustrasi: tombol lift

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebersihan udara dan benda di sekitar Anda menjadi salah satu hal penting dalam menjaga kesehatan selama pandemi virus corona COVID-19. Sebab, virus ini dapat menyebar melalui cairan di udara dan permukaan benda.

    Sebuah penelitian baru yang diadakan oleh National Institutes of Health atau NIH Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC, UCLA, dan Princeton University mengungkap daya tahan virus pada masing-masing permukaan benda yang berbeda-beda. 

    Hasil penelitian tersebut diterbitkan di New England Journal of Medicine pekan lalu, tapi detailnya menyusul pada Selasa, 17 Maret. Menurut penelitian, virus dapat bertahan hingga tiga jam dalam aerosol atau tetesan cairan di udara, dari batuk atau bersin, empat jam pada tembaga, dan 24 jam pada karton.

    Virus bertahan paling lama pada permukaan plastik dan baja tahan karat, yaitu mencapai 72 jam atau tiga hari.

    "Hasilnya memberikan informasi penting tentang stabilitas (virus) dan menunjukkan bahwa orang dapat memperoleh virus melalui udara dan setelah menyentuh benda yang terkontaminasi," demikian penyataan para peneliti menurut siaran pers NIH seperti dilansir People, Rabu, 18 Maret 2020.

    CDC juga memberi pedoman bahwa virus corona dapat menular dari orang ke orang melalui kontak dekat atau tetesan pernapasan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin.

    Namun yang paling mudah menularkan adalah menyentuh benda dan permukaan. Virus yang ada di benda tersebut dapat menempel di ujung jari Anda. Karena itu, hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan.

    Para ahli merekomendasikan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik. Jika mencuci tangan dengan sabun tidak memungkinkan, mereka merekomendasikan pembersih tangan atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol setidaknya 60 persen.

    Para peneliti mengungkap pada dasarnya, stabilitas virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19, mirip dengan SARS-CoV-1 dalam saat diuji. SARS-CoV-1 adalah virus yang memicu epidemi Sindrom Pernafasan Akut Parah atau SARS pada 2002. Namun, para peneliti mengungkap butuh penelitian lebih lanjut.

    Sebuah penelitian terpisah yang diterbitkan di The Journal of Hospital Infection bulan lalu menemukan bahwa virus corona manusia, seperti yang menyebabkan SARS, bisa bertahan pada permukaan mati, termasuk permukaan logam, kaca atau plastik, selama sembilan hari jika permukaan itu belum didesinfeksi. Itu menarik bagi para peneliti, karena virus SARS adalah yang paling dekat diketahui dengan virus baru.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.