Jadi Korban Catcalling, Hannah Al Rashid Beri Pelajaran Si Pelaku

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hannah Al-Rashid Duta SDG untuk Kesetaraan Gender saat ditemui dalam diskusi Summit on Girls

    Hannah Al-Rashid Duta SDG untuk Kesetaraan Gender saat ditemui dalam diskusi Summit on Girls "Getting Equal: Let's Invest in Girls!" yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Selasa 10 Desember 2019. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    TEMPO.CO, Jakarta - Hannah Al Rashid dikenal aktif menyuarakan kesetaraan gender, terutama yang berkaitan dengan pelecehan. Baru-baru ini, aktris Aruna dan Lidahnya itu mengalaminya. Ia menceritakannya dalam sebuah sebuah tweet pada Selasa, 10 Maret 2020. 

    Dalam unggahan tersebut, dia menceritakan bahwa ia menjadi korban catcalling di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Dia lalu mendekati pelaku hingga si pelaku kaget. 

    "Bapak suit-suit saya tadi? Itu adalah pelecehan verbal, jangan kayak gitu lagi, ya," tulis Hannah. 

    Si pelaku menunduk malu sambil mengatakan, "Iya, Mbak."

    Tak banyak orang menyadari bahwa catcalling, seperti suitan atau menegur seseorang dengan niat menggoda merupakan bentuk pelecehan. 

    "Some of these men push their luck, some are just ignorant. Let’s educate them," tulis Hannah mengajak orang untuk berani speak up.

    Ketua Soliditas Perempuan Dinda Nuur Annisaa Yura mengatakan catcalling merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual yang dilakukan secara verbal. Biasanya hal itu dilakukan ketika si korban, umumnya perempuan, sedang berjalan.

    "Bentuknya, bisa seperti siulan, panggilan ataupun komentar yang bersifat seksual kepada perempuan yang sedang lewat/berjalan," ucap Dinda saat dihubungi Tempo, Jumat 13 Maret 2020.

    Menurut perempuan 32 tahun ini, catcalling maupun bentuk pelecehan seksual lainnya bukanlah persoalan pakaian, pulang malam, atau sikap si korban. Melainkan cara pikir pelaku yang menganggap korban sebagai objek.

    Lalu bagaimana mencegah catcalling? Menurut Dinda perlu diawali dari kesadaran bahwa catcalling merupakan persoalan yang sifatnya struktural. Tidak bisa dilihat secara kasus per kasus, dan individu per individu, melainkan sangat terkait pada budaya dan cara pandang di atas.

    Secara strategi, penyebarluasan pemahaman dan perspektif terkait perempuan, keadilan gender dan feminisme harus dilakukan di sekolah-sekolah maupun ruang-ruang belajar lainnya.

    "Masyarakat juga perlu secara tegas dan berpihak pada korban ketika menyaksikan terjadinya catcalling, bukan malah mentoleransi dan menganggap kejadian ini sekadar candaan," ujar Dinda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.