Minyak Jagung Diklaim Lebih Sehat, tapi Waspadai Risikonya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minyak masak. Americanhouse.com

    Ilustrasi minyak masak. Americanhouse.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak jenis minyak yang menjadi pilihan dalam memasak makanan. Salah satunya adalah minyak jagung yang diklaim lebih sehat dibandingkan minyak sawit.

    Sesuai namanya, minyak jagung adalah minyak olahan hasil ekstraksi dari biji jagung. Minyak ini sering digunakan dalam memasak makanan, terutama dengan teknik deep frying. Walau begitu, minyak jangung juga dipakai dalam industri kosmetik, termasuk sebagai komposisi dalam make up, sabun cair, hingga sampo.

    Proses pembuatan dari biji jagung menjadi minyak terbilang kompleks. Selama proses pengolahan ini, banyak vitamin dan mineral dari biji jagung yang hilang. Meski demikian, minyak ini masih mengandung vitamin E.

    Kandungan nutrisi dari satu sendok makan minyak jagung tersebut, yaitu lemak 14 gram, Vitamin E 13 persen dari rekomendasi kebutuhan harian, dan kalori 122.

    Kandungan lemak dalam minyak jagung terdiri atas asam lemak omega-6 berupa asam linoleat serta omega-3. Hanya saja, porsi antara asam lemak omega-6 dibanding omega-3 tersebut tak seimbang, yakni 46:1.

    Menurut beberapa studi, minyak jagung memiliki beberapa potensi manfaat kesehatan.

    1. Kaya dengan fitosterol

     

    Fitosterol adalah senyawa alami tumbuhan yang struktur kimianya mirip dengan kolesterol pada hewan. Senyawa ini pun memiliki sifat antiradang. Mengonsumsi makanan yang mengandung antiradang dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.

    Sebagai tambahan, fitosterol diketahui dapat menghambat tubuh dalam menyerap kolesterol. Kolesterol yang terkendali dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

    2. Berpotensi untuk menjaga kesehatan jantung

    Selain fitosterol, minyak jagung juga mengandung vitamin E dan jenis lemak yang disebut asam linoleat. Vitamin E merupakan molekul antioksidan handal, yang mampu mengendalikan radikal bebas penyebab kerusakan sel. Radikal bebas yang tak terkendali dapat memicu penyakit kronis, termasuk penyakit jantung.

    Untuk asam linoleat, sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Circulation menemukan bahwa perubahan konsumsi dari lemak jenuh menjadi asam linoleat dikaitkan dengan penurunan risiko serangan jantung hingga 9 persen, dan penurunan risiko kematian akibat masalah jantung hingga 13 persen.

    Namun, minyak jagung pun memiliki beberapa risiko kesehatan yang patut untuk dicermati. Risiko ini pun mungkin terlalu besar jika dibandingkan dengan manfaat di atas.

    1. Tinggi dengan omega-6

    Asam linoleat, yang termasuk ke dalam omega-6, memang memiliki potensi manfaat kesehatan untuk jantung. Walau begitu, omega-6 dapat berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi berlebihan.

    Sebagian besar studi menyebutkan, porsi yang baik antara omega-6 dengan omega-3 adalah 4:1. Sementara itu, seperti yang disampaikan di atas, perbandingan omega-6 dengan omega-3 dalam minyak jagung adalah 46:1. 

    Ketidakseimbangan omega-6 dengan omega-3 dapat memicu masalah, seperti kegemukan atau obesitas, gangguan fungsi otak, depresi, dan penyakit jantung. Omega-6 juga cenderung bersifat ‘mendukung’ peradangan, terutama jika kadar omega-3 yang bersifat antiradang terlalu sedikit di tubuh.

    2. Diolah melalui banyak proses

    Untuk memproduksinya, minyak jagung harus melewati proses yang cukup rumit agar bisa kita konsumsi. Proses ini cenderung membuat minyak jagung sudah teroksidasi. Artinya, pada ukuran terkecilnya, elektron pada atom di minyak jagung sudah terlepas sehingga membuatnya tidak stabil.

    Atom-atom tidak stabil dalam tubuh dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit, menurut studi yang dimuat dalam jurnal Trends in Pharmotological Sciences tahun 2017.

    Jadi, minyak jagung sebenarnya sehat atau tidak? Minyak jagung memang mengandung beberapa nutrisi yang menyehatkan. Walau begitu, hal tersebut tidak menjadikannya sebagai minyak sehat. Hal dikarenakan minyak jagung diolah dengan beberapa proses, serta ketidakseimbangan omega-6 di dalamnya.

    Sebagai alternatif untuk minyak yang lebih sehat, Anda bisa mempertimbangkan minyak zaitun extra virgindan minyak kelapa dalam mengolah makanan.

    Minyak zaitun ekstra virgin cenderung tidak melewati proses layaknya minyak jagung. Minyak ini pun dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan medis, seperti penyakit jantung, kanker, dan obesitas.

    Sementara itu, minyak kelapa lebih stabil pada suhu tinggi dan lebih resisten terhadap proses oksidasi. Sebisa mungkin, karena pertimbangan di atas, penggunaan minyak jagung bisa dibatasi.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara