Jamu Tak Selalu Pahit, Ini Inovasi Minuman Herbal untuk Milenial

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi jamu (pixabay.com)

    ilustrasi jamu (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Apa yang Anda pikirkan ketika pertama kali mendengar kata jamu? Pasti jawabannya tidak jauh dari pahit, kuno, dan lain-lain. Tapi di luar kesan pahitnya, jamu memiliki segudang manfaat untuk menjaga kesehatan. 

    Hal itu dungkapkan Dedi Sopiyandi, salah satu penyuluh jamu dari Martha Tilaar Group. Dalam  acara 20 Tahun Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC) Berkarya Global untuk Indonesia, dia menceritakan bahwa telah melakukan penelitian pada 100 orang dari generasi milenial. Hampir semua orang yang ditanya tentang jamu, jawabannya adalah pahit. Hal itu menjadi tantangan tersendiri baginya dan penyuluh-penyuluh jamu lainnya bagaimana bisa menjangkau kaum milenial dengan jamu dan obat tradisional.

    Dedi dan timnya pun membuat satu inovasi, namanya herbal juice. Karena stigma yang ada pada masyarakat jamu itu pahit, ia dan rekan-rekan membuat minuman dengan campuran buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman herbal. Salah satu rasa yang menjadi andalan herbal juice adalah jamu yang mengurangi kolesterol, dengan campuran buah nanas, madu, dan jahe.

    Jamu lainnya yang terbukti khasiatnya adalah jamu untuk menghilangkan nyeri saat haid, dengan campuran nanas, temulawak, dan kunyit.

    Jamu atau minuman herbal merupakan campuran tanaman-tanaman herbal asli indonesia yang diolah tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Tujuannya, agar saat dikonsumsi aman dan menghasilkan metabolisme yang diperlukan tubuh secara alami. Di Kampoeng Djamoe, ada sekitar 650 jenis tanaman herbal asli indonesia yang telah lama digunakan sebagai bahan baku obat dan kosmetik Sari Ayu Martha Tilaar.

    Dedi juga menjelaskan bahwa pengolahan jamu sebenarnya sangat mudah, “Yang namanya jamu itu ya, kamu tanam, kamu panen, cuci, rebus, lalu kamu minum, itu jamu,” kata dia, Rabu, 8 Januari 2020. 

    Manurut Dedi, jamu dan obat tradisional kini kurang kurang dilirik karena banyak pengetahuan tentang jamu yang kurang diketahui masyarakat. “Mereka mungkin kurang paham, bagaimana mengolahnya, bagaimana dosisnya, bagaimana efeknya, dan lain-lain.”

    Dia juga mengatakan bahwa hal ini bisa datang dari kurangnya pembuktian secara ilmiah tentang pengolahan dan efek-efek jamu, “Jadi memang perlu penelitian lebih lanjut,” ujarnya.

    Untuk mempopulerkan jamu, pemerintah mendukung Marta Tilaar Group dengan ikut mengembangkan inovasi-inovasi malalui ranah penelitian. Hal tersebut diungkapkan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Bambang Brodjonegoro. Dia mengatakan dalam sambutannya akan terus dukung. “Karena produk-produk yang dihasilkan Martha Tilaar merupakan suatu produk yang inovatif, jadi harus kita patenkan karena bisa menjadi modal bisnis yang berpengaruh,” kata dia saat ditemui di acara tersebut.

    NURUL FARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.