Konsumsi Kafein Bisa Mencegah Obesitas? Intip Studi Ini

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi kopi (pixabay.com)

    ilustrasi kopi (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Senang minum kopi, teh, atau minuman lain yang mengandung kafein? Bagi Anda yang sedang menjalani program menurunkan berat badan, kafein akan membuat Anda senang. Sebuah studi menunjukkan kafein dapat mengimbangi beberapa konsekuensi yang tidak sehat dari pola makan yang memicu obesitas. 

    Para ilmuwan di University of Illinois di Urbana-Champaign memberi makan tikus diet tinggi lemak dan tinggi gula. Mereka kemudian memberi tikus-tikus itu teh mate dengan kafein dan teh mate tanpa kafein.

    Tikus yang mengonsumsi ekstrak kafein bertambah berat badan 16 persen lebih sedikit daripada tikus yang mengkonsumsi teh tanpa kafein. Efek antiobesitas serupa juga terjadi pada tikus yang mengonsumsi kafein sintetis atau kafein yang diekstrak dari kopi.

    Dengan mempelajari sel-sel tikus, para ilmuwan menemukan bahwa kafein memberikan beberapa efeknya dengan mengubah ekspresi gen tertentu. Mereka melaporkan hasilnya dalam makalah Journal of Functional Foods baru-baru ini.

    "Mempertimbangkan temuan ini, teh dan kafein dapat dianggap sebagai agen antiobesitas," kata penulis studi, Elvira Gonzalez de Mejia, Direktur Ilmu Nutrisi, University of Illinois, dilansir Medical News Today, Selasa (7/1/2020).

    Tim memberi enam kelompok tikus diet tinggi lemak, tinggi gula selama 28 hari. Selain itu, mereka melengkapi diet dari lima kelompok dengan kafein sintetis, teh yang mengandung kafein, kafein yang diekstrak dari teh, kafein yang diekstrak dari kopi, dan teh tanpa kafein. Jumlah kafein setara dengan jumlah yang dikonsumsi manusia dari minum 4 cangkir kopi per hari.

    Setelah 28 hari, ada perbedaan nyata dalam massa tubuh tanpa lemak di antara enam kelompok tikus. Tikus-tikus yang mengonsumsi kafein dari sumber mana pun memperoleh lebih sedikit lemak tubuh daripada rekan-rekan mereka dalam kelompok non-kafein.

    Temuan ini menambah pengetahuan tentang potensi teh untuk membantu memerangi obesitas, di samping manfaat kesehatan lainnya yang diberikan oleh vitamin, flavonoid, dan senyawa fenolik dalam teh herbal.

    Teh mate, atau yerba mate, adalah minuman yang terbuat dari daun pohon Ilex paraguariensis St. Hilaire. Teh ini adalah minuman populer di Amerika Selatan, di mana konsumsi di negara-negara seperti Brasil, Chili, Argentina, Paraguay, dan Uruguay dapat mencapai 3-10 kilogram per kapita.

    Minuman ini telah menjadi alternatif populer untuk teh hitam dan kopi karena reputasinya sebagai pelindung terhadap infeksi, obesitas, diabetes, dan kondisi kardiovaskular.

    Satu sajian teh ini mengandung antara 65 dan 130 miligram (mg) kafein. Secangkir kopi diseduh, sebaliknya, dapat mengandung 30–300 mg kafein.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kelebihan berat badan dan obesitas sebagai akumulasi lemak berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan.

    Obesitas adalah tantangan kesehatan utama di seluruh dunia. Setelah terbatas pada negara-negara berpenghasilan tinggi, sekarang masalah kesehatan ini juga berkembang di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah. Setidaknya 2,8 juta kematian per tahun disebabkan oleh obesitas dan kelebihan berat badan.

    Kegemukan dan obesitas adalah faktor risiko utama untuk banyak kondisi kesehatan kronis, termasuk diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak, dan penyakit kardiometabolik.

    Sementara berbagai intervensi - termasuk perubahan gaya hidup, obat-obatan, dan pembedahan - dapat membantu penderita obesitas menurunkan berat badan, mempertahankannya tetap menjadi tantangan utama.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.