Bahaya Melihat Gerhana Matahari Cincin dengan Mata Telanjang

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi memotret gerhana matahari total. Nasa.gov

    Ilustrasi memotret gerhana matahari total. Nasa.gov

    TEMPO.CO, JakartaGerhana matahari cincin akan tampak di beberapa kota di Indonesia pada Kamis, 26 Desember 2019. Anda tentu tak mau melewatkan momen langka ini, bahkan ada yang rela ke luar kota demi menyaksikan gerhana matahari lebih jelas. Namun, amankah menyaksikan gerhana matahari?

    Ternyata gerhana matahari tidak bisa dilihat begitu saja dengan mata telanjang. Ada cara yang perlu diikuti agar mata Anda tetap bisa terlindungi dari kerusakan yang terjadi.

    Bagi Anda yang berminat untuk melihat fenomena ini secara langsung, ada beberapa hal yang perlu disiapkan, salah satunya kacamata atau alat khusus untuk melihat gerhana. Sebab, melihat gerhana matahari tanpa alat perantara apa pun, bisa merusak mata kita. Mengapa bisa begitu?

    Dokter spesialis mata Hisar Daniel mengatakan bahwa melihat gerhana matahari secara langsung, berisiko membuat mata Anda terkena kondisi yang dinamakan solar retinopathy.

    “Solar retinopathy itu adalah kerusakan yang terjadi pada mata akibat radiasi sinar matahari” ungkapnya.

    Dr. Hisar menambahkan, penglihatan orang yang terkena solar retinopathy, bisa kabur secara permanen. Selain itu, kondisi ini juga bisa menyebabkan munculnya titik buta atau bintik hitam di mata.

    Karena itu, sebaiknya Anda tidak mengabaikan instruksi keamanan dalam melihat gerhana matahari. Meski matahari terlihat tertutup oleh bulan dan menjadi gelap, namun sinarnya tetap saja bisa merusak mata apabila dilihat secara langsung.

    “Jika gerhana sedang terjadi, jangan melihatnya langsung, dan sebaiknya ikuti anjuran dari BMKG saja, mengenai waktu yang aman untuk melihatnya” ujar Hisar.

    SEHATQ

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.