Dianggap Merugikan Kesehatan, Ini Fakta MSG

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi MSG. Shutterstock

    Ilustrasi MSG. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Monosodium glutamat atau MSG yang sering digunakan sebagai bumbu masak untuk menambah rasa gurih atau umami pada makanan menjadi kontroversi. Ada rumor yang menyebutkan bahwa bahan tambahan pangan atau BTP ini menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sakit kepala, penambahan berat badan, hingga menyebabkan ketagihan. Faktanya? 

    Anggapan tentang bahaya MSG bagi kesehatan dikemukakan pertama kali oleh Dr Ho Man Kwok 1988. Dia menulis surat pada New England Journal of Medicine untuk menceritakan kemungkinan penyebab gejala yang dia alami setiap kali makan di restoran Cina di Amerika Serikat. Gejala itu dikenal dengan istilah “Sindrom Restoran China”. 

    Namun, sejumlah pakar kesehatan menyatakan bahwa MSG yang sering disebut dengan micin ini aman asal dikonsumsi asal dalam jumlah secukupnya. 

    Menurut Razak Thaha dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia, dalam buku terbitan IDI “Review Monosodium Glutamate: How to Understand It Properly” yang ditulis Dien Kurtanty, Daeng Mohammad Faqih, dan Nurhidayat Pua Upa (2018),  MSG tersusun tersusun atas glutamat 78 persen, natrium 12 persen, dan air 10 persen. Dengan bahan tersebut, MSG tidak mengandung zat berbahaya.

    Badan-badan pangan dan kesehatan dunia saat ini, seperti JEFCA, Komunitas Kesehatan Eropa, US FDA dan BPOM memberikan batas asupan harian dalam penggunaan MSG adalah not specified atau secukupnya. "Sebagai sebuah garam natrium, MSG tidak mengandung
    zat berbahaya," kata Razak.

    Pada 1970, Organisasi Pangan dan Pertanian FAO mencatat batas maksimum konsumsi MSG yang dapat diterima dan dianggap memenuhi batas keamanan (safety level) adalah 120 mg/kg berat badan per hari.

    Kadar glutamat dalam darah baru akan meningkat signifikan hanya jika dikonsumsi dalam jumlah besar, yaitu lebih dari 5 gram, itu pun akan kembali ke kadar normal dalam waktu dua jam.

    Meskipun demikian, ada sebagian orang yang sensitif sehingga akan mengalami efek samping mengonsumsi MSG. Sebuah penelitian yang dimuat di Journal of Allergy and Clinical Immunology pada 1997, seperti dikuitp Helathline, menyebutkan bahwa orang dengan sensitivitas yang mengonsumsi 5 gram MSG mengalami reaksi seperti sakit kepala, otot tegang, mati rasa, lemah, dan memerah.

    Glutamat sesungguhnya tak hanya ada di dalam MSG. Zat ini merupakan asam amino umum yang ada dalam makanan sehari-hari seperti tomat, keju parmesan, jamur kering, air susu ibu, dan beberapa jenis sayuran. 

    Tubuh manusia menyimpan 1.200-1.400 gram glutamat bebas dan terikat. Tubuh masih perlu memproduksi 41 gram glutamat bebas setiap hari untuk berbagai proses metabolisme.

    Ketua Perastuan Parbik Monosodium Gutamate dan Glutamic Acid Indonesia atau P2MI M Fachrurozy mengatakan MSG terbuat dari tetes tebu, bukan zat kimia sintetik atau zat aditif, melalui proses fermentasi. Hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah dari lembaga yang kredibel yang menyatakan bahwa MSG dapat menyebabkan kenaikan berat badan, dampak negatif pada otak, dan menyebabkan ketagihan.

    "Khusus mengenai MSG dan sakit kepala, berdasarkan Headcahe Classification of Headache Disorders 3rd Edition, MSG sudah dikeluarkan dari penyebab sakit kepala atau migrain," kata dia dalam keterangan tertulisnya pada 19 November 2019. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.