Kopi dan Teh Mengandung Zat Adiktif, CekTanda saat Ketagihan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi perempuan dan temannya mengobrol sembari minum kopi. (Purewow/Twenty20)

    ilustrasi perempuan dan temannya mengobrol sembari minum kopi. (Purewow/Twenty20)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika membicarakan zat adiktif, hal pertama yang Anda pikirkan mungkin adalah rokok atau narkoba. Padahal, ada jenis zat adiktif lainnya yang bahkan bisa Anda temukan di menu makanan atau minuman sehari-hari, misalnya teh dan kopi.

    Zat adiktif pada dasarnya adalah obat serta bahan-bahan aktif yang bila dikonsumsi oleh makhluk hidup akan menyebabkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Ketika Anda kecanduan zat adiktif ini, Anda ingin menggunakannya terus-menerus. Bila berhenti, tubuh akan cepat lelah dan merasakan sakit yang luar biasa.

    Apakah Anda merupakan peminum kopi atau teh yang kerap merasa pusing atau lemas jika tidak ngopi atau ngeteh di pagi hari? Ya, itu hanyalah salah satu pertanda bahwa zat adiktif telah memengaruhi tubuh Anda.

    Zat adiktif dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika, zat adiktif narkotika, dan zat adiktif psikotropika. Nah, kopi mengandung zat adiktif yang termasuk dalam kelompok zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika.

    Teh dan kopi mengandung kafein yang membuat peminumnya mengalami ketergantungan, apalagi jika Anda terbiasa minum kopi lebih dari dua cangkir per hari. Kopi mengandung kafein yang lebih tinggi ketimbang teh, tapi teh juga memiliki zat adiktif lain berupa theine, teofilin, dan teobromin dalam jumlah sedikit.

    Kabar baiknya, kopi dan teh tetap aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Apalagi, keduanya juga memiliki manfaat bagi kesehatan, misalnya mencegah penyakit Parkinson, kanker usus, kanker lambung, dan kanker paru-paru.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.