Sering Kerja Lembur? Ini Risiko Kesehatan yang Bisa Anda Hadapi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bekerja (pixabay.com).jpg

    Ilustrasi bekerja (pixabay.com).jpg

    TEMPO.CO, Jakarta - Pepatah yang mengatakan orang bisa mati karena terlalu lama bekerja bukanlah isapan jempol. Kasus seperti ini sudah banyak terjadi di Jepang, bahkan negara itu memiliki istilah sendiri untuk hal ini, yakni ‘karoshi’ yang berarti ‘mati karena terlalu banyak bekerja’.

    Mengalami kematian memang merupakan efek paling ekstrem yang bisa dialami oleh seseorang yang bekerja melewati batas jam kerja normal. Namun, Anda juga dapat merasakan dampak negatif dari bekerja lembur ini, misalnya:

    Meningkatkan risiko penyakit jantung

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Inggris, orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu berisiko lebih tinggi terkena serangnan jantung  dan stroke dibanding mereka yang bekerja dalam waktu normal. Hal ini juga banyak ditemui pada kasus di Jepang, di mana karoshi paling banyak disebabkan oleh dua penyakit ini.

    Peluang pekerja lembur menderita serangan jantung makin tinggi ketika pekerja berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sedangkan stroke dapat menimpa siapa saja yang gemar lembur, tidak peduli status sosial-ekonominya.

    Mengapa kerja lembur dapat meningkatkan risiko penyakit jantung? Para ilmuwan juga belum menemukan jawaban pastinya.

    Hanya saja, pekerja lembur cenderung mengalami ketidakseimbangan hormonal, terutama pada hormon yang berhubungan dengan stres, seperti kortisol dan epinefrin. Meningkatkan level kedua hormon ini dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit kardiovaskular.

    Meningkatkan risiko penyakit metabolik

    Penyakit metabolik merupakan turunan dari penyakit yang berhubungan dengan abnormalitas jantung seperti diutarakan sebelumnya. Penyakit yang termasuk kategori ini, yaitu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi (trigliserida tinggi dan kolesterol baik rendah), gula darah tinggi, dan obesitas.

    Produktivitas stagnan

    Banyaknya jam bekerja ternyata tidak berbanding lurus dengan produktivitas pekerjaan yang Anda hasilkan. Riset menunjukkan orang yang bekerja 70 jam per minggu menyelesaikan jumlah pekerjaan yang cenderung sama dengan orang yang bekerja hanya 56 jam per minggu. Hal ini dikarenakan tubuh manusia memang tidak dirancang untuk selalu on setiap saat.

    Kurang istirahat

    Semakin banyak waktu yang Anda habiskan untuk bekerja lembur, semakin sedikit waktu istirahat yang Anda miliki. Kualitas tidur Anda pun ikut terganggu yang mengakibatkan bukan hanya Anda rentan mengalami kelelahan, namun juga meningkatkan risiko Anda terkena penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

    Sakit leher dan punggung

    Sakit leher dan punggung bukan hanya pertanda Anda mengalami pegal-pegal, namun juga stres. Pada wanita yang sering lembur, rasa sakit biasanya terjadi di area leher, sedangkan pada pria di punggung bagian bawah.

    Murung

    Selain mengakibatkan berbagai masalah kesehatan fisik, kesehatan mental Anda juga dapat terganggu akibat sering lembur. Ketika mental terganggu, Anda akan sering murung dan merasa depresi.

    Hubungan personal terganggu

    Sering lembur juga dapat menimbulkan friksi dalam hubungan Anda dengan orang lain. Anda mungkin masih bisa menyempatkan diri nongkrong dengan pasangan atau teman-teman, tapi rasa stres, lelah, bahkan depresi bisa mengganggu kualitas pertemuan itu.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.