Meski Menyehatkan, Asam Lemak Omega 3 Bukan untuk Depresi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita depresi. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita depresi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Asam lemak omega 3 selama ini dipercaya berpengaruh mengatasi kecemasan dan depresi. Tapi, sebuah tinjauan yang dimuat di British Journal of Psychiatry mengatakan hal itu tidak benar. Hanya saja, omega-3 diakui memang menyehatkan tubuh.

    Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti mengamati 31 percobaan pada orang dewasa dengan dan tanpa depresi atau kecemasan.

    Lebih dari 41.470 peserta dipilih secara acak untuk mengonsumsi lebih banyak lemak omega 3 atau mempertahankan asupan seperti biasa, selama setidaknya enam bulan.

    Dilansir Science Daily, mereka menemukan bahwa suplemen memiliki sedikit atau tidak ada efek dalam mencegah gejala depresi atau kecemasan.

    "Penelitian kami sebelumnya telah menunjukkan suplemen omega 3 rantai panjang, termasuk minyak ikan, tidak melindungi terhadap kondisi seperti penyakit jantung, stroke, diabetes atau kematian," kata Dr Lee Hooper, dari Norwich Medical School UEA.

    Dia mengatakan, temuan ini bisa menjadi dasar bagi ahli untuk tidak mendorong omega 3 sebagai pengobatan kecemasan dan depresi.

    Hal senada diungkapkan, Dr Katherine Deane, dari Fakultas Ilmu Kesehatan UEA. Menurut dia, tidak ada nilai nyata pada orang yang menggunakan suplemen minyak omega 3 untuk pencegahan atau pengobatan depresi dan kecemasan.

    Omega 3 adalah jenis lemak yang bisa ditemukan dalam makanan yang kita makan termasuk kacang-kacangan dan biji-bijian dan ikan berlemak, seperti salmon. Lemak ini juga tersedia sebagai suplemen tanpa resep dan banyak dibeli dan digunakan.

    Asam lemak omega-3 memiliki banyak manfaat kesehatan seperti membantu relaksasi otot, pencernaan dan pembekuan darah.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.