Atasi Anak Kecanduan Gawai, Made Taro Diminta Mendongeng

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Made Taro memegang alat musik dari bambu yang disebutnya Tok-tek yang digunakan untuk mendongeng di Bali pada Minggu, 27 Oktober 2019. TEMPO/Made Argawa.

    Made Taro memegang alat musik dari bambu yang disebutnya Tok-tek yang digunakan untuk mendongeng di Bali pada Minggu, 27 Oktober 2019. TEMPO/Made Argawa.

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak kini banyak yang mengalami kecanduan gawai. Bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit jiwa karena hal itu. Para ahli mengatakan kondisi ini bisa diatasi dengan cara sederhana, salah satunya dongeng. 

    Pendongeng asal Bali, Made Taro, pernah diminta mendongeng untuk mengurangi kecanduan anak pada gawai. Menurut dia, hal tersebut merupakan rekomendasi dari psikolog.

    “Sekitar Agustus 2019, ada orang tua dari Karangasem yang meminta anaknya diceritakan dongeng,” katanya seusai mengisi acara di Ubud Writers and Readers Festival atau UWRF, Ahad, 27 Oktober 2019.

    Dogeng memiliki efek yang baik untuk anak yang kecanduan gawai. Namun, Made Taro juga meminta orang tua untuk rutin mendongeng pada anaknya sebelum tidur. “Setelah itu dilakukan, ada perubahan,” ujarnya.

    Pada kasus di Karangasem, Made Taro melanjutkan, si anak hanya fokus bemain gawai. Akibatnya, proses komunikasi dengan orang lain terganggu. “Anak itu sudah kelas empat sekolah dasar. Jika tidak pegang telepon genggam akan ngamuk,” katanya.

    Sebelumnya, Made Taro juga pernah diminta untuk mendongeng pada seorang anak yang mengalami kasus serupa di Denpasar. “Psikolog tahu dongeng bisa sebagai healing story atau penyembuhan,” kata pria yang menerima Lifetime Achievement Award Ubud Writers and Readers Festival 2019.

    Namun, Made Taro tidak tahu bagaimana perkembangan anak di Denpasar karena hanya diundang mendongeng sekali.

    Made Taro mulai mendongeng pada tahun 73 karena melihat seorang anak yang murung di dekat rumah dinasnya. Saat itu ia adalah seorang guru. Ia lantas mendekati anak itu dan membuatkan mainan kincir dari kertas dan mendongeng. Anak tersebut, cerita Made Taro, tersenyum. “Kejadian itu yang membuat saya mulai mendongeng,” ujarnya.

    Setelah itu, anak-anak di sekitar rumah Made Taro banyak yang meminta ia mendongeng. Hingga akhirnya membentuk sanggar dongeng Kukuruyuk. “Ada tiga syarat untuk bisa mendengarkan dongeng dari saya, sudah mandi, sudah makan, dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR),” katanya.

    Selain karena kexanduan gawai, orang tua juga pernah meminta tolong pada Made Taro karena anaknya tidak mau menggunakan celana dalam. Akhirnya Made Taro menambahkan aturan, jika ingin mendengar dongengnya, anak-anak harus mengenakan celana dalam.

    “Si anak yang tadinya tidak mau, akhirnya menggunakan celana dalam,” ujarnya.

    Pria kelahiran 16 April 1939 berpadangan, karakter anak bisa dibentuk. Hal tersebut dimulai dari lingkungan keluarga dan merupakan tugas orang tua. “Mendongeng bisa menjadi salah satu cara,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.