Hindari Stunting dengan Daun Kelor

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Daun Kelor. Tokopedia

    Daun Kelor. Tokopedia

    TEMPO.CO, Jakarta - Mungkin selama ini banyak masyarakat yang menganggap daun kelor itu identik dengan mistik. Itu memang benar, sebab kelor biasanya digunakan sebagai metode untuk mengusir makhluk halus. Selain itu, daun kelor juga biasa digunakan sebagai bahan untuk memandikan orang yang telah meninggal guna mengusir seluruh aura negatif yang masih menempel.

    Namun, daun kelor memiliki segudang manfaat baik bagi kesehatan tubuh manusia. Hal tersebut juga dikuatkan dengan hasil yang dikeluarkan oleh data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengatakan bahwa manfaat daun kelor bagi kesehatan di antaranya dapat membantu perkembangan tubuh serta menjadi obat tradisional untuk berbagai macam penyakit.

    Kandungan asam amino esensial yang terdapat di dalam daun kelor juga bisa membantu perkembangan bayi dalam kandungan. Maka, daun kelor juga direkomendasikan bagi ibu-ibu hamil agar kondisi tubuh serta lebih baik dan sehat.

    Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Kementerian Kesehatan mencatat, kekerdilan (stunting) di Indonesia berada di angka 30,8 persen. Meski trennya cenderung menurun jika dibandingkan 2007 yang mencapai 36,8 persen dan terus naik sampai 37,2 persen pada 2013, prevalensi anak kerdil masih menjadi perhatian khusus dari pemerintah.

    Ilustrasi stunting diturunkan dari orang tua? (pixabay.com)

    Sementara berdasarkan ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angka kekerdilan di suatu negara harus di bawah 20 persen. Maka dari itu, sejak beberapa tahun terakhir pemerintah terus berupaya mengatasinya di Indonesia sebagai program kerja prioritas.

    Kekerdilan adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kekerdilan terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia 2 tahun.

    Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengungkapkan konsumsi daun kelor mampu mencegah dan bahkan mengurangi kekerdilan atau masalah kekurangan gizi di Indonesia. Daun kelor dapat dengan mudah ditemui dan dikembangkan di Indonesia. Karena itu, pihaknya berharap daun kelor bisa menjadi sumber pangan alternatif lokal asli Indonesia yang bisa menurunkan angka kekerdilan di Indonesia.

    Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yuly Astuti juga membenarkan temuan tersebut.

    "Sudah ada temuan di Surabaya, namanya Kampung ASI. Masyarakat di sana punya ada kebiasaan kalau ada perempuan hamil menanam daun kelor di pekarangan rumah,” katanya.

    Ia mengakui kegunaan awal dari daun kelor itu hanya untuk memperlancar ASI pada ibu hamil karena kandungan gizi daun kelor yang sangat tinggi. Untuk itu, cara yang paling sederhana untuk mencegah kekerdilan adalah dengan mengonsumsi olahan alami, seperti daun kelor ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.