Demensia, Sindrom Berkurangnya Memori. Simak Penjelasan Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi demensia (Pixabay.com)

    Ilustrasi demensia (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama ini, demensia atau pikun identik dengan oang usia lanjut atau lansia. Padahal, siapapun bisa mengalaminya. Untuk lebih jelasnya, tak ada salahnya menyimak penjelasan para pakar berikut.

    Pada sebuah diskusi ilmiah bertema "Tipe Demensia Alzheimer" di Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (IPB), spesialis saraf dr. Andreas Harry SpS (K)menjelaskan bahwa demensia (kepikunan) adalah sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan berkurangnya domain memori yang menyebabkan gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari.

    "Demensia bersifat progresif bertahap, dan pada penderitanya tetap dalam keadaan sadar (normal consiousness)," katanya pada diskusi yang diikuti sejumlah peneliti yang juga kandidat master (S2) dan doktor (S3) itu.

    Ia merujuk konferensi dokter ahli syaraf dunia tentang penyakit Alzheimer yang berlangsung di Paris, Prancis, pada Juli 2011 dan sudah memperkirakan bahwa penderita demensia di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia, akan meningkat dramatis.

    "Di negara-negara berkembang, jumlah penderita demensia akan meningkat lebih dramatis selama dekade berikutnya, diperkirakan sampai tiga kali lipat lebih tinggi daripada di negara maju," kata dosen pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta dan pengajar luar biasa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar 1996-2001 itu.

    Ilustrasi demensia. REUTERS

    Secara epidemiologi, di AS maupun Eropa, prevalensi maksimal penderita demensia pada usia lanjut (demensia senilis) sebesar lima persen pada populasi yang berusia lebih 65 tahun. Persentase ini meningkat menjadi 20 persen pada populasi yang berusia lebih 80 tahun.

    "Penyakit Alzheimer diperkirakan sebesar 60 persen dari seluruh penderita emensia," katanya menambahkan.

    Ia mengemukakan bahwa berdasarkan penelitian epidemiologi di Amerika Serikat, prevalensi penyakit Alzheimer sebesar tiga persen pada populasi berusia 60-74 tahun, 18,7 persen pada populasi berusia 75-84 tahun, dan 47,2 persen pada populasi berusia lebih dari 85 tahun.

    "Sehingga diperkirakan pada tahun 2040 terdapat 14 juta penderita Alzheimer dan menjadi penyebab kematian nomor 4 di Amerika Serikat," katanya.

    Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Profesor Dr. Mohammad Hasan Machfoed, SpS (K) pada ASEAN Neurological Association (ASNA) 2011 di Sanur, Bali, menjelaskan prevalensi demensia di Indonesia belum ada angka resminya. Namun, ia memperkirakan angkanya di kisaran lima hingga tujuh persen.

    "Kalau di luar negeri (angka prevalensinya) langsung bisa diketahui karena datanya ada, sedangkan kalau di kita (Indonesia) tidak. Angka (di Indonesia) cukup tinggi, namun jumlah, pastinya secara resmi belum ada," katanya.

    Menurutnya, di Indonesia demensia semakin banyak karena yang utama dari aspek usia. "Demensia menjadi penting karena usia harapan hidup itu semakin lama semakin tinggi sedangkan demensia itu penyakitnya orang tua bukan anak-anak, dengan demikian dengan kondisi tersebut maka timbul kelainan yang disebut demensia," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.