Makan Tak Terkendali selama Lebaran, Waspadai Stroke

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hidangan/masakan lebaran. ANTARANEWS

    Hidangan/masakan lebaran. ANTARANEWS

    TEMPO.CO, Jakarta - Beragam makanan lezat terhidang selama Lebaran. Selain hidangan yang mengandung santan dan lemak, kue yang terbuat dari tepung, gula, dan produk olahan susu juga perlu diwaspadai.

    Konsumsi kue Lebaran yang tidak terkendali bisa meningkatkan faktor pemicu stroke ringan meskipun tidak selalu terjadi. Faktor kondisi kesehatan seseorang turut memengaruhi munculnya gejala stroke ringan. 

    “Pemicunya sebenarnya sudah ada dalam tubuh seseorang (biasanya tidak diketahui sebelumnya), kemudian dipicu oleh asupan makanan yang tidak terkendali, ditambah kondisi fisik yang kurang sehat, seperti kurang istirahat. Karenanya, periksakan segera sebagai antisipasi. Jika merasa dalam kondisi sehat, tetaplah menjaga kondisi tubuh. Jika ada risiko, Anda perlu disiplin dalam pengaturan makan dan perlu obat. Kalau tidak sempat periksa, sebaiknya jaga prinsip makan sehat,” jelas dokter ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta, dr. Marya Haryono, Mgizi, SpGk.  

    Artikel lain:
    Kiat agar Makeup Tahan Lama saat Silaturahmi di Hari Lebaran
    Tip Selalu Tampil Segar dan Cantik Saat Lebaran

    Pemeriksaan kesehatan jangan hanya dijadikan agenda setelah Lebaran atau liburan namun perlu dilakukan secara berkala.

    “Sebelum Lebaran atau libur panjang pun tetap periksakan kondisi kesehatan sebagai langkah antisipasi. Hasilnya dapat digunakan sebagai pembanding dengan kondisi kesehatan setelah Lebaran,” jelas Marya. 

    Berolahraga teratur sebanyak tiga sampai lima kali seminggu dengan durasi 30 hingga 45 menit adalah cara ideal menjaga kesehatan.

    “Tapi, jika kondisi kesehatan mengalami masalah serius dan butuh obat, ikuti saran dokter. Ia akan memberi terapi sesuai indikasi,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.