3 Mitos Paling Umum Tentang Pernikahan dan Faktanya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan merencanakan pernikahan. shutterstock.com

    Ilustrasi pasangan merencanakan pernikahan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak mitos mengenai pernikahan. Beberapa mitos berasal dari budaya pop, televisi dan lagu, atau dari keluarga dan teman-teman dekat. Masalahnya, banyak orang sering mengartikannya sebagai fakta dan akhirnya merusak hubungan dengan pasangan.

    Baca juga: Pernikahan Spektakuler 2018, Royal Wedding Urutan ke Berapa?

    Mengutip laman Psych Central, Jazmin Moral, seorang psikoterapis yang berspesialisasi untuk pasangan, dan Keith Miller, seorang terapis pasangan, menjelaskan mitos-mitos seputar pernikahan dan faktanya.

    #1. Mitos: Suami secara otomatis akan tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukan untuk membuat Anda bahagia.

    "Ada ketakutan bahwa jika Anda harus meminta sesuatu maka itu tidak 'dihitung' atau itu tidak bermakna," kata Jazmin Moral. Banyak mitos yang mengatakan kalau pasangan sejati yang memang cocok untuk Anda akan langsung mengetahui keinginan Anda. Faktanya, pasangan tidak bisa membaca pikiran, dan itu bukan suatu hal yang buruk. Anda harus bisa mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginan Anda ke pasangan dan tidak berharap suami secara otomatis akan tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukan.

    #2. Mitos: Pasangan yang bahagia harus melakukan semuanya bersama.
    Walaupun menghabiskan waktu bersama memang menjadi suatu hal yang positif untuk pasangan. Faktanya, Anda juga harus memiliki waktu untuk melakukan hal-hal untuk Anda sendiri. Terutama jika dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai atau tidak boleh melakukan suatu hal yang Anda sukai, karena pasangan Anda tidak ingin melakukannya, hal tersebut bisa merusak hubungan dengan pasangan. Anda tidak harus melakukan semua hal bersama untuk menjadi pasangan yang bahagia.

    #3. Mitos: Memiliki anak membuat pasangan menjadi lebih dekat.
    Memiliki anak dapat memperdalam pemahaman pasangan satu sama lain dan keintiman mereka. Tetapi memiliki anak juga bisa meningkatkan atau menunjukkan berbagai masalah tersembunyi. Keith Miller menunjukkan kalau pasangan bisa saja tidak setuju dengan gaya pengasuhan satu sama lain. Satu pasangan mungkin berpikir yang lain terlalu permisif, sementara pasangan itu bersumpah mereka terlalu membatasi. Faktanya, karena kebanyakan orang tua memiliki naluri alami untuk melindungi anak-anak mereka, mereka malah akan menyerang pasangan mereka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.