Selasa, 20 November 2018

Cara H&M Mendaur ulang Pakaian Bekas Menjadi Baru

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo perusahaan fashion asal Swedia H&M di pertokoan Wina, Austria, 1 Oktober 2016. [REUTERS/Leonhard Foeger]

    Logo perusahaan fashion asal Swedia H&M di pertokoan Wina, Austria, 1 Oktober 2016. [REUTERS/Leonhard Foeger]

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri fashion salah satu sumber polusi terbesar di dunia. Sebagai merek mode ternama di dunia, H&M dari tahun 2013 sudah mulai melakukan inisiatif atau gerakan untuk fashion yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Berbagai inisiatif hijau H&M sudah dilakukan di seluruh dunia, dengan harapan semua bahan yang digunakan merek ini pada tahun 2020 adalah 100 persen sustainable.

    Baca juga: Koleksi Kolaborasi H&M dan Moschino Terinspirasi dari Televisi

    Di tahun 2017, H&M seluruh dunia sudah menggunakan sustainable garment atau kain yang ramah lingkungan sebanyak 59 persen. Namun, pembeli juga memiliki peran untuk membantu inisiatif hijau ini.

    Communications Manager H&M Indonesia, Karina Soegarda mengatakan di setiap negara, toko H&M memiliki Garment Collecting Box, untuk baju-baju yang sudah tidak layak dipakai. "Contohnya kaos kaki bolong yang tidak mungkin kita berikan sebagai donasi untuk yayasan,” jelas Karina saat ditemui, di H&M Showroom, Jakarta Selatan, Rabu 31 Oktober 2018.

    Communications Manager H&M Indonesia, Karina Soegarda, saat ditemui di H&M Showroom, Jakarta Selatan, Rabu 31 Oktober 2018. TEMPO/Astari Pinasthika Sarosa

    Karina Soegarda menjelaskan kalau merek internasional ini memiliki kolaborasi dengan I:CO, yang bekerja untuk mendaur ulang busana bekas untuk menjadi bahan baru. “Semua baju-baju bekas yang dikumpulkan dikirim ke mereka (I:CO) dan disana dipilih-pilih untuk dibuat menjadi garment. Yang bisa didaur ulang bisa jadi garment, tapi kalau tidak bisa akan dipotong-potong jadi filler sofa, isi bantal, isi kursi mobil,” ujarnya.

    Tidak hanya itu, inisiatif H&M ini juga menggunakan katun organik yang sama sekali tidak menggunakan pestisida. “Baju-baju kids kita banyak menggunakan organic cotton karena untuk anak kecil dan bayi lebih hati-hati untuk membuat baju. Organic cotton tidak pakai pestisida sama sekali karena itu aman untuk anak-anak,” ujar Karina Soegarda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.