Selasa, 13 November 2018

Psikolog Jelaskan Bahaya Minimnya Sensitivitas di Antara Pasangan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi orang tua bertengkar di depan anak-anak. news.com.au

    Ilustrasi orang tua bertengkar di depan anak-anak. news.com.au

    TEMPO.CO, Jakarta - Kehidupan berumah tangga tidak selalu mulus. Ada kalanya masalah-masalah silih berganti menghampiri. Oleh karena itu, diperlukan sensitivitas yang baik dari setiap pasangan untuk bisa mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya.

    Sensitivitas ini akan sangat membantu meredakan kondisi keluarga. Namun, tidak sedikit keluarga yang kurang sensitif terhadap pasangan karena memiliki kepribadian yang tertutup.

    Baca juga:
    7 Alasan Pria Berbohong kepada Pasangan
    6 Tanda Kamu Siap Berkomitmen dengan Pasangan

    Psikolog Tika Bisono menuturkan bahwa orang-orang yang tertutup atau bahkan antisosial cenderung memiliki norma pribadi yang belum tentu sehat. Mereka cenderung sosiopatik, yakni memiliki tingkah laku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan dan norma umum.

    “Orang yang sudah sosiopatik bisa enggak kelihatan, bahkan pasangan sendiri bisa enggak tahu. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.

    Tika menjelaskan bahwa gejala kondisi tersebut akan kelihatan jika orang di sekitarnya sensitif. Misalnya, jika seseorang tengah menghadapi masalah akan melakukan kebiasaan tertentu, apakah dengan membanting barang, menyakiti diri sendiri, atau melakukan kegiatan yang tidak lazim.

    “Kalau sudah seperti itu harusnya disikapi, langsung diajak ngobrol. Harus disikapi dan ditindaklanjuti. Orang ini kan belum tentu komunikatif, apalagi untuk inisiatif ke psikolog,” terangnya.  

    Artikel lain:
    6 Tanda Anda Mencintai Pasangan karena Terpaksa
    Pasangan Sedang Sedih, Jangan Ikut Terbawa Emosi

    Jika tidak diajak bicara dan dirangkul, maka persoalan tentu akan berhenti pada dirinya saja. Ketika hal ini terjadi, masalah akan terakumulasi dan menggunung hingga menjadi “bom atom”.

    “Ini namanya histeria, situasi yang enggak tahu ujung pangkalnya, terus meledak,” lanjut Tika.

    Oleh karena itu, sambungnya, tidak baik menggampangkan persoalan sehari-hari yang ada di dalam rumah tangga dan pentingnya sensitif terhadap perilaku pasangan sehari-hari. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.