Senin, 17 Desember 2018

Perawatan Paliatif Kanker: Bukan Menyembuhkan tapi Meringankan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kanker. shutterstock.com

    Ilustrasi Kanker. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasien kanker umumnya mengetahui penyakit tersebut pada stadium lanjut. Kondisi ini membuat angka kesembuhan dan harapan hidup pasien kanker tersebut lebih tipis dibanding pasien kanker yang sudah mengetahui penyakitnya sejak stadium dini. Dalam situasi ini, pasien kanker membutuhkan perawatan paliatif untuk membantu memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

    Baca juga:
    6 Mitos Kanker Payudara yang Harus Diabaikan 

    Dua Kanker Ini Paling Banyak Mengancam Wanita

    Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia atau YKI, Aru Wisaksono Sudoyo mengatakan perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan juga keluarganya yang berhadapan langsung dengan penyakit tersebut, baik secara fisik, psikososial ataupun spiritual. Perawatan paliatif diperlukan karena banyak rumah sakit di Indonesia yang masih fokus pada kesembuhan pasien secara medis, namun tidak memikirkan kualitas kehidupan pasien dan keluarganya.

    "Perawatan paliatif ini belum banyak diketahui masyarakat," kata Aru Wisaksono Sudoyo saat diskusi Pengenalan Perawatan Paliatif dengan Cara Menyenangkan
    untuk Survivor dan Pasien Kanker di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat 24 Agustus 2018. Berasal dari kata palliate, yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, perawatan palliatif adalah suatu cara untuk meringankan dan mengurangi penderitaan.

    Perawatan ini telah menjadi bagian integral dari pendekatan terapeutik terhadap pasien tidak menular, seperti kanker. Perawatan paliatif juga tidak perlu dilakukan di rumah sakit, melainkan bisa dilakukan di rumah untuk memberi suasana yang lebih menyenangkan dan positif. Pasien bisa dikelilingi keluarga dan suasana rumah yang lebih nyaman ketimbang dikelilingi dinding rumah sakit dan peralatan medis.

    (dari kiri) Adityawati Ganggaiswari (M. Biomed dari Yayasan Kanker Indonesia), Dr. Siti Annisa Nuhonni (Yayasan Kanker Indonesia), Dr. Nadia Ayu Mulansari (SpPD-KHOM), Prof. Aru Sudoyo (Ketua Umum YKI), Aryanti Baramuli (Koordinator 80 survivor kanker dari CICS, YKI dan Multiple Myeloma), dr. Maria A Witjaksono (Dokter paliatif), Dr Harlinda Haroen (SpPD KHOM) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat 24 Agustus 2018. TEMPO | Astari P Sarosa

    Yang perlu diingat, menurut dokter Spesialis Penyakit Dalam ang juga Konsultan Hematologi-Onkologi Medik dari Perhompedin, Nadia Ayu Mulansari, perawatan paliatif ini bukan pengobatan untuk menyembuhkan melainkan untuk meringankan sebelum, saat dan setelah terapi. Mengenai metodenya, Nadia menjelaskan YKI sudah mengadakan program pembekalan perawatan paliatif agar dapat diterapkan di rumah.

    Penerapan metode perawatan paliatif menjadi penting karena menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, jumlah pasien kanker bertambah 7 juta orang setiap tahun. Dua per tiga dari angka itu adalah pasien dari negara-negara berkembang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 kasus kanker baru per 100 ribu penduduk. Dengan sekitar 240 juta penduduk, maka Indonesia memilki 240 ribu pasien kanker baru setiap tahunnya.

    ASTARI PINASTHIKA SAROSA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".