Sabtu, 23 Juni 2018

Kenalan dengan Wasit Sepakbola Berhijab Indonesia Nur Holisah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nur Holisah, wasit perempuan Indonesia berhijab dalam acara Beauty Ramadan, di Novotel Tangerang Hotel dan Resort. TEMPO | Ayu Cipta

    Nur Holisah, wasit perempuan Indonesia berhijab dalam acara Beauty Ramadan, di Novotel Tangerang Hotel dan Resort. TEMPO | Ayu Cipta

    TEMPO.CO, Tangerang - Di Indonesia, jumlah wasit perempuan untuk olahraga sepakbola jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Menurut mahasiswa program studi matematika murni di Universitas Negeri Jakarta atau UNJ, Nur Holisah, angkanya tak lebih dari 10 orang, termasuk dirinya. Perempuan berhijab ini memantapkan diri menekuni dunia perwasitan sejak 2013, dan kini dia telah mengantongi lisensi C2 tingkat provinsi.

    Baca juga:
    Mengenal Deliana Fatmawati Kaban, Wasit FIFA Asal Indonesia
    JJ, Wasit Sepak Bola Muslim Wanita Pertama dalam Sejarah Inggris

    Nur Holisah sudah teruji memimpin berbagai pertandingan, mulai dari kelas pertandingan antar kampung hingga Liga 3. "Saya tertarik menjadi wasit karena profesi ini unik dan tidak semua orang berminat," kata Nur Holisah di Novotel Hotel dan Resort Tangerang, Minggu 3 Juni 2018. "Bagi saya, pekerjaan sebagai wadit adalah tantangan."

    Perempuan 20 tahun ini menceritakan awal muda keinginannya menjadi wasit tidak mendapat restu orang tua. Sulung dari dua bersaudara itu berusaha meyakinkan ayah ibunya kalau dia bisa menjadi wasit. Terlebih Nur Holisah adalah atlet dari cabang olahraga atletik dari Kabupaten Bekasi. "Dengan semangat dan latar belakang tadi, orang tua saya sekarang mengerti dan memberi dukungan," kata dia. Menjadi wasit juga tak membuat Nur Holisah meninggalkan kuliahnya yang kini sudah masuk semester VI.

    Ketika memimpin pertandingan, Nur Holisah punya pengalaman yang membuatnya resah. Saat itu dia menjadi wasit pertandingan sepakbola anak-anak. Hanya saja, orang tua dari tim sepakbola anak yang kalah tak menerima kekalahannya. "Orang tua yang menonton kesal saat gawang tim kesebelasan anaknya kebobolan. Mereka malah memanas-manasi suasana dengan meneriakkan kata-kata yang tidak pantas, misalnya pukul saja lawannya, dan sebagainya" kata Nur Holisah.

    Di saat seperti itu, Nur Holisah harus bisa mengatur permainan agar tetap sesuai aturan. "Saya harus sabar, disiplin, dan mengarahkan pemain untuk fair," katanya. Mendengar teriakan orang tua yang bikin suasana pertandingan tambah kacau, Nur Holisah berupaya mendekati para pemain yang masih anak-anak itu dan meyakinkan mereka bisa menjadi pemain yang baik. "Kalau sampai mengikuti kata-kata penonton, pemain bisa kena sanksi bahkan masuk dalam tindak kriminal."

    Nur Holisah berharap pilihan kariernya ini bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan, terutama yang berhijab. Menurut dia, memakai hijab bukan halangan untuk berprestasi di bidang apapun. "Di lapangan masih bisa tampil cantik. Pakai hijab dengan seragam wasit yang sesuai ketentuan. Celana panjang, atasan kaos lengan panjang, dan tetap berkerudung," ujarnya sembari tersenyum.

    Selain Nur Holisah, ada Tiyas Puspita seorang novelis, dan Desi Antika Putri yang menjabat creative program sebuah acara televisi yang berbagi inspirasi. General Manager Novotel Hotel dan Resort Tangerang, Windiarto mengatakan acara Ramadan Beauty diharapkan mampu memberikan nilai positif bagi para tokoh muslimah dan komunitas hijabers."Dalam Ramadan Beauty ini kami mengadakan beauty class, fashion show competitation dan talk show," ucap dia.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.