Aura Kasih Sebut 2 Perempuan yang Bikin Dia Feminin, Bukan Ibunya

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aura Kasih. Tabloidbintang

    Aura Kasih. Tabloidbintang

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak kecil, duduk di sekolah dasar sampai selesai sekolah menengah pertama, Aura Kasih belum pernah memiliki rambut panjang. Selama itu, hanya ada dua model rambutnya, bob pendek atau potongan bondol. "Waktu itu, orang bilang rambut saya bondol," kata Aura Kasih.

    Setelah lulus sekolah menengah pertama di Bandung kemudian tinggal di Tasikmalaya bersama nenek dan tantenya, Aura Kasih berubah menjadi lebih perempuan. "Dari nenek dan tente, saya belajar menjadi perempuan," ujarnya.
    Oleh nenek dan tantenya, Aura Kasih menganggap bahwa perempuan itu lebih cantik, keren, dan enak dipandang, jika rambutnya hitam dan panjang. Sejak itu, Aura Kasih mengatakan, dia tak lagi berpikir untuk memiliki rambut pendek, apalagi dibondol.

    Meski begitu, saat meniti karier di dunia seni, Aura Kasih sempat memangkas pendek rambutnya. Kemudian rambut panjang kembali dipertahankan setelah banyak mendapat tawaran akting.

    Aura Kasih. Tabloidbintang

    Mengenai warna rambut, Aura Kasih mengatakan pernah mengecat rambutnya dengan warna pirang. "Beberapa teman bilang, 'kamu kayak artis Korea'," ujar Aura Kasih menirukan ucapan temannya. "Ketika saya mengembalikan warna rambut menjadi hitam, mereka bilang, 'Kamu tampak lebih simpel dan anggun'."

    Dan di usia 30 tahun, Aura Kasih mengatakan, dia memang harus tampil anggun meski tak suka mengenakan gaun. Bagi Aura Kasih, memakai gaun itu cukup ribet karena harus menyesuaikan aksesoris lainnya dari ujung rambut sampai kaki. "Kalau boleh memilih dan diizinkan, aku ingin melangkah di karpet merah dengan mengenakan jumpsuit atau celana jeans dan kaos," ujarnya.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.