Jumat, 22 September 2017

Pasien Ginjal Harus Moving On, Merdeka Memilih Terapinya

Jum'at, 18 Agustus 2017 | 05:40 WIB
Ilustrasi sakit pinggang. Shutterstock

Ilustrasi sakit pinggang. Shutterstock.

TEMPO.CO, Jakarta -Kasus pasien dengan penyakit gagal ginjal di Indonesia tercatat cukup tinggi hingga saat ini.

Dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, Pernefri (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) Koordinator Wilayah Jakarta menjelaskan, berdasarkan laporan edisi ke 7 Indonesian Renal Registry di tahun 2014, 56 persen pasien ESRD (End Stage Renal Disease / gagal ginjal kronik)tergolong dalam usia produktif dibawah 55 tahun. (bacaPyelonephritis, Gejalanya Muncul Hanya dalam Hitungan Jam)

Dengan insiden tahunan sebanyak 35.000 kasus pada cuci darah, sangatlah penting untuk mengetahui penyebab dan pilihan terapi yang bisa dijalankan oleh pasien.

“Dua faktor utama dari sakit ginjal adalah tekanan darah tinggi serta diabetes, yang merupakan penyebab dari 2/3 kasus gagal ginjal kronis," ujarnya dalam siaran persnya.

Pasien ESRD memiliki beberapa pilihan terapi, yang terdiri dari hemodialisis, peritoneal dialisis, serta transplantasi ginjal. Tren tersebut menjadi bukti pentingnya kesadaran akan penyakit ginjal serta pengetahuan tentang pilihan perawatan yang memberikan keleluasaan bagi pasien agar tidak terganggu pada masa transisi ke dialisis.

Ambri Lawu Trenggono, salah satu pasien yang terlibat dalam kampanye ini mengatakan, kemerdekaan yang dia raih dengan menjalani rekomendasi terapi dialisis yakni PD, telah memberikan keleluasaan bagi saya untuk tetap aktif dan hidup normal meskipun saya mengalami gagal ginjal.


"Satu bulan sekali saya berkonsultasi dengan dokter untuk memonitor kondisi saya, tapi selama saya mengikuti anjuran saat pergantian cairan, disiplin dengan diet dan menjalani pola hidup sehat, saya bisa memiliki hidup yang fleksibel. Saat ini saya menjalankan bisnis yang membantu sesama pasien gagal ginjal, serta mendukung keluarga saya.” ujarnya>

Baxter, perusahaan global dalam bidang perawatan ginjal, meluncurkan kampanye ‘Moving On’ di Indonesia, untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai gagal ginjal kronis (GGK) dan pilihan perawatan cuci darah (seperti Peritoneal Dialisis (PD) dan Hemodialisis (HD)). Kampanye ini bermaksud untuk menginspirasi pasien sakit ginjal dalam mendapatkan keputusan mengenai pilihan jenis perawatan yang ada dengan meningkatkan standar perawatan. (bacaGejala Penyakit Ginjal, dari Urine Merah sampai Mata Bengkak)

Kampanye yang diresmikan bersamaan dengan hari kemerdekaan Indonesia ini akan menampilkan tiga video pasien inspiratif yang menyoroti berbagai pilihan terapi dialisis yang memungkinkan pasien untuk lebih independen sehingga merasakan dampak yang lebih sedikit dari sakit ginjal dalam hidup mereka.

“Kampanye Moving On bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai dampak penyakit ginjal, dan bagaimana melalui perawatan yang tepat, pasien dapat menjalani hidup yang fleksibel dan mandiri. Melalui kampanye ini, kami ingin menginspirasi pasien ESRD dan menunjukkan bahwa perawatan dialisis bukanlah penghalang bagi pasien untuk menjalani hidup yang aktif dan mandiri. Kampanye ini memberdayakan pasien sesuai anjuran dokter dalam memilih perawatan dialisis yang tepat agar bisa menjalani hidup yang produktif”, jelasDorothea Koh, General Manager Baxter Indonesia.

BISNIS


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.