Rabu, 23 Agustus 2017

Putus Cinta Itu Bisa Diprediksi, Pakai Logikamu

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 16:30 WIB
Ilustrasi cinta semu. shutterstock.com

Ilustrasi cinta semu. shutterstock.com.

TEMPO.CO, Jakarta - Ketika kisah asmara sudah tak manis lagi, ujungnya adalah kegagalan. Tapi bagaimana versi ilmiah putus cinta? Seperti juga sebuah hubungan, putus cinta bisa sangat rumit. Baca: 7 Fakta Ini Ungkap Apakah Si Dia Cinta atau Sekadar Nafsu

Bagaimana tanggapan orang tergantung pada faktor-faktor yang mereka rasakan mengenai hubungan, dampak terhadap citra mereka, dan reaksi pasangan di media sosial. Berikut fakta-fakta mengenai putus cinta versi Live Science.
 
1. Bisa diprediksi
Kita baru sadar hubungan telah berakhir ketika putus. Padahal teman-teman sudah bisa tahu lebih dulu. Perjalanan asmara yang penuh riak membuat orang lain dengan mudah memprediksi hubungan tersebut bakal kandas.
 
2.  Identitas hilang
Semakin intim hubungan pasangan, semakin hilang identitas masing-masing. Begitu laporan di jurnal Personality and Social Psychology pada 2010. Serangkaian penelitian membuktikan putus cinta bisa membuat seseorang kehilangan identitas diri dan mengambang.

3. Tinggal di rumah itu sehat
Menghabiskan banyak waktu di rumah setelah putus ternyata berdampak baik. Nikmatilah waktu dengan menyantap makanan enak, menonton televisi, dan bermalas-malasan. Sekilas cara ini terlihat tak sehat tapi sangat membantu proses pemulihan perasaan.
 
4. Jangan terlalu menenggelamkan diri
Tinggal di rumah dan bermalas-malasan boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu lama. Apalagi bila yang dikerjakan hanya mengecek status media sosial mantan. Menurut sebuah penelitian terhadap 500 mahasiswi, mereka yang menghabiskan banyak waktu dengan mengecek status Facebook mantan lebih rentan terserang stres dan rasa kehilangan.

Hasil penelitian dimuat di jurnal Cyberpsychology, Behavior and Social Networking pada September 2012. Akan tetapi, memutuskan pertemanan dengan mantan bisa menjadi bumerang karena justru akan meningkatkan rasa penasaran dan semakin ingin tahu soal mantan.

5. Sulit melupakan
Bila kita tak kuat dengan dampak putus, jangan menyiksa diri. Peyangkalan sisi romantis tak seperti kecanduan, begitu kata penelitian yang dimuat di Journal of Neurophysiology pada 2010. Baca juga: Alasan Kepala Cenderung Mengarah ke Kanan saat Berciuman


Menurut para peneliti, banyak orang yang mengaku masih sayang pada mantan mereka. Contohnya ketika para peneliti membakar foto mantan seseorang. Dari hasil pindai otak diketahui area di otak orang tersebut yang disebut ventral tegmental dan berada di tengah langsung teraktivasi. Area ini akan teraktivasi bila seseorang sedang kasmaran. Tapi ingat, jangan mau hanya diperdaya oleh otak. Ikuti juga kata hati untuk melupakan mantan.

6. Dibedakan oleh jenis kelamin
Setiap orang mungkin pernah merasakan patah hati, tapi seberapa besar dampaknya tergantung jenis kelamin. Perempuan diklaim lebih emosional dan merasakan sakit lebih mendalam dibanding lawan jenisnya. Begitu menurut laporan di Evalutionary Behavioral Sciences pada 2015.

Contohnya, dari nilai 10, rata-rata nilai rasa kehilangan perempuan adalah 6,84 sedangkan laki-laki 6,58. Penelitian melibatkan lebih dari 5.000 orang dari 96 negara, termasuk pecinta sesama jenis.
 
7. Tak seburuk yang kita pikirkan
Kita sering berpikir betapa beratnya putus cinta. Padahal itu hanya karena reaksi kita yang berlebihan. Banyak orang yang mampu bangkit dua kali lebih cepat dari yang mereka perkirakan dan mereka tidak merasa sangat terpuruk seperti yang dikhawatirkan. Begitu kata penelitian yang dimuat di Journal of Experimental Social Psychology pada 2008.

Artikel lainnya: Najwa Shihab, Putri Ulama Quraish Shihab Jawab Soal Hijab

PIPIT


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?