Rabu, 20 September 2017

Tenun Ikat Sumba Jangan Digunting, Begini Alasannya

Rabu, 12 Juli 2017 | 22:02 WIB
Seorang pengrajin tenun ikat Sumba Timur sedang menenun kainnya di Kampung Adat Raja Prailiu di Waingapu, Sumba Timur NTT, 4 Juli 2017. Tenun ikat Sumba Timur dihargai Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta selembarnya. ANTARA/Kornelis Kaha

Seorang pengrajin tenun ikat Sumba Timur sedang menenun kainnya di Kampung Adat Raja Prailiu di Waingapu, Sumba Timur NTT, 4 Juli 2017. Tenun ikat Sumba Timur dihargai Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta selembarnya. ANTARA/Kornelis Kaha.

TEMPO.CO, Jakarta - Seni tenun adalah budaya tua yang ditekuni manusia untuk menghasilkan busana dan merupakan peradaban yang hampir merata ditemukan di seluruh pelosok bumi.

Pada masa modern ini pun ketika pabrik pemintalan benang mampu menghasilkan ribuan, bahkan jutaan meter tekstil dengan cara yang praktis, tradisi memintal benang untuk membuat kain masih ditekuni di beberapa tempat, tak terkecuali di Pulau Sumba, satu daratan kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT).(baca :Menikmati Kuliner Khas Vietnam, dari Kopi sampai Rambut Nenek )

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang hadir dan mengenakan ikat kepala dan berselempang kain tenun menyaksikan Festival Tenun dan Kuda Sandelwood di Lapangan Galatama, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT, Rabu.

Bagi orang Sumba, memiliki dan mengenakan kain serta sarung dari tenun ikat merupakan suatu "keharusan" karena kain tenun adalah busana penting yang dikenakan pada acara adat, seperti menghadiri pesta pernikahan, upacara kematian, dan beribadah.

Menurut Mikhael Molan Keraf, CSsR, Direktur Yayasan Sosial Donders, kaum perempuan di perdesaan menenun kain sebagai ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam, dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan keseharian. (baca : Di Bandara Changi, Ada Pelayanan Khusus buat Wisatawan Indonesia )


Sejak mengetahui hal itu, dia lebih menghargai kain tenun dan lebih berhati-hati memakainya. Misalnya, tidak lagi menggunting kain.

Meskipun berasal dari Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Flores Timur, tokoh yang lebih dikenal dengan sapaan Pater Mike Keraf ini sekarang lebih sering berpakaian ala pria Sumba dengan memakai ikat kepala serta kain tenun yang melilit pinggangnya.

Memaknai kain sebagai bagian dari ibadah juga diakui oleh Angela Lele Biri, perempuan Sumba yang bekerja di Kantor Dinas Agama Kabupaten Sumba Barat.

ANTARA


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.