Rabu, 20 September 2017

Anindya Kusuma Putri: Dari Miss Universe ke Juru Bicara Olahraga

Sabtu, 10 Juni 2017 | 13:33 WIB
Anindya Kusuma Putri. Facebook Miss Universe

Anindya Kusuma Putri. Facebook Miss Universe.

TEMPO.CO, Jakarta - Anindya Kusuma Putri diangkat menjadi juru bicara Kementerian Pemuda dan Olahraga pada Mei 2017. Pemenang Puteri Indonesia 2015 in tak menyangka mendapatkan pekerjaan ini. "Saya senang banget. Cuma sempat kaget," kata Anindya saat ditemui Tempo di PIK Avenue, Jakarta Utara.

Sejak ditunjuk sebagai juru bicara sekaligus duta program Ayo Olahraga, ia telah mendampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nachrawi ke berbagai daerah di Tanah Air selama dua pekan. Sisanya, ia berkantor di gedung Kementerian di kawasan Senayan.

Ia mengatakan tak sungkan untuk berguru kepada para birokrat di Kementerian untuk memahami berbagai persoalan. Soalnya, meski ia pernah menjadi atlet bulu tangkis di kota kelahirannya, Semarang, dunia politik dan birokrasi tak pernah dimasukinya. "Saya punya tanggung jawab besar untuk menguasai substansi," kata perempuan kelahiran 3 Februari 1992 ini. Perihal ketidakpahamannya itu pun telah disampaikan kepada Menteri Imam, sesaat setelah ia diminta secara informal menjadi juru bicara.

Namun dunia olahraga dan kepemudaan adalah bagian dari hidupnya. Sedari kecil, Anin aktif dalam organisasi Pramuka dan OSIS. Sejak usia 10 tahun, ia berlatih bulu tangkis dan mengikuti berbagai kejuaraan. "Eyang kakung yang mengenalkan bulu tangkis kepada ayah, bude, dan cucu-cucunya."

Badminton, kata dia, memberikan pengaruh besar dalam kehidupannya hingga sekarang. Ia ditempa untuk disiplin, fokus, tak mudah menyerah, berpikir strategis, dan memiliki mental yang kuat. "Meskipun puasa atau ada ujian sekolah, kami harus berlatih. Tidak peduli pusing atau muntah-muntah," perempuan dengan tinggi badan 175 sentimeter ini mengenang.


Meski ia kemudian berhenti karena cedera lutut pada usia 18 tahun, gelar juara ketiga pernah dua kali dibawanya pulang di nomor ganda campuran kejuaraan badminton di Jawa Tengah. Pada 2008, ia mengikuti kejuaraan nasional bulu tangkis dan melawan Chandra Wijaya yang berpasangan dengan Greysia Polii di nomor ganda campuran.

Pada 2014, anak dari pasangan Ismoyo Dwi Djantoro dan Retno Djumerut ini mengikuti program pertukaran pemuda yang diselenggarakan Kementerian Pemuda ke Jepang dan Asia Tenggara. "Beberapa pengalaman ini yang saya ceritakan kepada Pak Imam, ketika saya dan menteri Kabinet Kerja menjadi juri di final pemilihan Puteri Indonesia, Maret lalu," kata dia.

Sepekan kemudian, peringkat 15 besar Miss Universe ini diminta hadir dalam sebuah acara di Kementerian Pemuda dan ditantang Imam untuk bermain bulu tangkis kembali dengan Chandra Wijaya. Setelah bertanding, ia ditawari pekerjaan untuk menjadi juru bicara. Anin menerima tawaran tersebut sebagai sebuah tantangan baru. "Ini kerja berat. Tugas ini mendorong saya untuk benar-benar belajar dan mengembangkan diri sebagai jubir," kata sarjana teknik tata kota dari Universitas Diponegoro ini.

Sementara ini, Anin diberi tanggung jawab mensosialisasikan program-program di Kementerian, seperti pesta olahraga, program reguler dan unggulan kepemudaan, serta persiapan SEA Games di Malaysia. "Tapi, soal pendanaan Asian Games, saya belum bisa jawab."

Ia juga memberikan masukan kepada Menteri Imam dan tim humas untuk memperbarui situs Kemenpora.go.id. Dia menemukan situs tersebut belum mencantumkan informasi mengenai pertukaran pemuda ke luar negeri, seperti ke Kanada, Australia, Cina, dan Malaysia. Serta perlu dilengkapi informasi tentang paskibraka dan pramuka. "Supaya banyak orang yang tahu dan mengikuti program itu. Karena saya dulu juga tahu program pertukaran itu dari komunitas," kata dia.

Anin mengakui fisiknya yang kuat turut mendukung kesibukannya berorganisasi dan mengikuti kegiatan di berbagai komunitas. Di sela-sela kesibukannya, ia menjadikan olahraga badminton, basket, lari, dan bermain jet ski sebagai solusi untuk tetap bugar. Anin juga getol mengajak para artis dan mantan juara Puteri Indonesia untuk aktif berolahraga.

Kini, telepon selulernya pun harus selalu aktif. Sebab, wartawan akan menghubunginya untuk menanyakan berbagai hal terkait dengan kebijakan Kementerian. "Itu konsekuensi yang harus saya terima," kata dia. Rata-rata 2-3 orang menghubunginya setiap hari. "Saya berusaha menjadi jubir yang responsif."

MARTHA WARTA SILABAN

Berita lainnya:
Kawan Imajiner Si Kecil, Baik atau Buruk? Pahami 5 Faktanya
Ingin Selalu Bersama Keluarga, Begini Siasat Fenita Arie
10 Tanda Perusahaan yang Tak Layak Jadi Tempat Bekerja

 

 




Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.