Senin, 01 Mei 2017 TEMPO.CO logo

karier

Jum'at, 21 April 2017 | 21:30 WIB

4 Rahasia Sukses Meneruskan Bisnis Keluarga

TEMPO.CO, Jakarta - Makin banyak saja anak muda yang terjun ke dunia bisnis, termasuk perempuan. Tak sedikit dari mereka yang meneruskan bisnis keluarga dan biasanya sudah turun temurun. Namun tugas melanjutkan bisnis warisan tersebut jelas tidak mudah.

Tak ada yang ingin melihat bisnis yang telah susah-payah dibangun hancur begitu saja di tangan generasi penerus. Berikut ini empat hal penting yang harus diperhatikan saat menyiapkan pewaris bisnis keluarga.

Pertama, pendiri biasanya ingin melihat nilai-nilai dasar yang dibangun sejak awal bisa dilanjutkan. Keberlanjutan itu lebih sering disebut sebagai benang merah. Dengan demikian, benang merah nilai dasar ditransfer dari generasi ke generasi.

“Titik kritisnya adalah memindahkan nilai-nilai dasar antargenerasi. Nilai-nilai itu tidak harus sama di setiap generasi. Bisa saja berubah karena eranya sudah berubah. Dunia sudah berubah, apalagi saat ini digital semakin marak. Tapi, benang merahnya tetap sama,” kata Bernard Wijaya, Direktur PT Martha Tilaar yang juga pengamat dinamika generasi penerus bisnis perusahaan keluarga.


Yang banyak terjadi, lanjut dia, adalah generasi lama tidak mau kalau ada perubahan pada nilai-nilai dasar. Sementara itu, generasi baru tidak ingin mengambil pakem dari generasi lama karena itu sudah tidak berlaku. Generasi penerus seharusnya mempertahankan nilai dari perusahaan yang kuat dan menjadi filosofi.

“Tapi, generasi awal juga harus mau mengikhlaskan pola baru yang terbentuk sesuai dengan zamannya. Jangan justru saling menyalahkan. Harus ada estafet yang menyerahterimakan perusahaan di antargenerasi,” ujarnya.

Hal penting selanjutnya adalah keterbukaan alias menjaga komunikasi antargenerasi. Generasi penerus harus mau mendengarkan petuah generasi sebelumnya. Sementara, yang tua pun harus memahami cara berkomunikasi yang baik.

Yang ketiga adalah pengalaman yang sangat mahal harganya. Dalam bisnis, jatuh-bangun adalah hal biasa. Namun, justru pengalaman inilah yang harus ditransfer kepada generasi penerus agar mereka memahami betapa sulitnya mengawali bisnis keluarga, apa saja kekuatan perusahaan.

“Pendiri harus memberi kesempatan anaknya berkarier mulai dari bawah. Jadi, tidak langsung di posisi atas, walaupun memang bukan bawah sekali. Mungkin dari manajer junior, kemudian naik ke menengah, dan seterusnya. Dengan pola ini, ia akan mengenal perusahaan,” ucapnya.

Selanjutnya, menurut Bernard, adalah melakukan rotasi secara vertikal maupun horisontal. Dengan begitu, sang pewaris paham betul di mana minatnya. Generasi penerus juga harus diberi pekerjaan mulai dari hal  kecil sehingga mereka akan memahami cara memperlakukan anak buah.

“Dari kecil, nanti akan naik. Jadi, tanggung jawabnya bertahap. Ketika salah mengambil keputusan, masih di level dia, tidak sampai fatal ke perusahaan. Kelebihannya adalah di pengalaman,” tuturnya.

SWA

Artikel lain:
Kenali Tipe Penjilat di Tempat Kerja
5 `Obat` Penyemangat Saat Kamu Sedih
Kartini dan 5 Perempuan Pahlawan Emansipasi



Komentar(0)