Sabtu, 19 Agustus 2017

Hari Kartini, Bagaimana Para Wanita Dulu Berolahraga?

Jum'at, 21 April 2017 | 08:00 WIB
FPC. Bugar Masa Kartini. Revolver.kb.nl

FPC. Bugar Masa Kartini. Revolver.kb.nl.

TEMPO.CO, Jakarta -Di era Raden Ajeng Kartini, yang lahir pada 21 April 1879, kehidupannya harus mengikuti tradisi pada masa itu. Misalnya saja tak bisa menuntut ilmu hingga jenjang yang tinggi, dipingit, menikah muda. Sementara, para wanita di belahan dunia lain sudah bisa melakukan banyak hal, seperti pendidikan tinggi hingga menjadi ilmuwan, dan melakukan berbagai aktivitas di luar rumah, termasuk olahraga.

Buat para wanita, terutama yang gemar berolahraga, pasti bisa membayangkan betapa tidak enaknya tak bisa melakukan kegemaran tersebut. Padahal di masa Kartini, olahraga sudah banyak dilakukan oleh para perempuan di dunia barat.

Menurut laman Japanese Center for Research on Women in Sport, sejarah wanita dan olahraga sudah dimulai pada abad ke-19. Menjelang akhir abad ke-19, atau masa Kartini hidup, para wanita sudah banyak yang bermain tenis, golf, ski, menunggang kuda, menekuni panahan, terutama perempuan kalangan atas dan bangsawan.

Dalam foto-foto yang menggambarkan kegiatan olahraga para wanita di masa lalu, terlihat mereka melakukan aktivitas fisik itu dengan pakaian yang mungkin di masa sekarang terkesan ribet dan tidak praktis. Para pemain tenis di masa itu, misalnya, masih mengenakan rok panjang hingga mata kaki, blus lengan panjang, atau bisa juga berupa baju terusan panjang dan juga berlengan panjang, serta topi yang di masa kini tampaknya lebih cocok untuk piknik.

Atlet-atlet putri sudah berpartisipasi pada Olimpiade ke-2 pada 1900. Olimpiade modern pertama digelar di Athena, Yunani – tempat asal Olimpiade kuno – pada 1896 dan hanya diikuti oleh atlet-atlet putra Yunani.


Menurut Komite Olimpiade Internasional (IOC), hanya 12 atlet putri yang tampil pada Olimpiade ke-2 dari total 1066 peserta dari 19 negara. Ke-12 wanita itu hanya turun di dua cabang, golf dan tenis. Pada awal abad ke-20 itu pula renang mulai menjadi olahraga yang digemari para wanita dan akhirnya dilombakan pada Olimpiade ke-5 di Stockholm, Swedia, pada 1912.

Di cabang tenis, nomor untuk putri di Wimbledon sudah dipertandingkan sejak 1884, atau tujuh tahun setelah turnamen akbar itu digelar untuk pertama kali. Adalah Maud Watson yang menjadi juara putri Wimbledon pertama.

Di Amerika Serikat, menurut The Sport Journal, hingga 1870 wanita hanya berolahraga dengan sifat rekreasional, bukan kompetitif, seperti berkuda, berenang, dan olahraga dayung. Barulah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, wanita memasuki era kompetisi dengan terbentuknya banyak klub olahraga, misalnya klub atletik. Setelah itu, tenis, panahan, dan boling makin populer di kalangan perempuan.

Bagaimana di Indonesia? Di era Kartini, olahraga sudah dilakukan, tapi oleh para wanita Belanda. Salah satu permainan yang populer adalah korfball. Dalam bahasa Belanda korf berarti keranjang, jadi permainan ini mirip bola basket, dan diciptakan oleh Nico Broekhuysen pada 1902. Dalam sebuah foto di laman sejarah juga terlihat kumpulan para wanita dan pria Belanda di sela-sela acara main tenis.

PIPIT

Berita lainnya:
Pilkada Jakarta, Ada Manfaat Ajak Anak ke TPS
Cara Tsania Marwa Peduli pada Telinga Anaknya
Simak 7 Kebohongan yang Sering Dilakukan, Apa Dampaknya?


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?