Sabtu, 19 Agustus 2017

Gara-gara Sering Sakit, Helga Ciptakan Makanan Sehat

Jum'at, 21 April 2017 | 08:11 WIB
Helga Angelina, pemilik restoran Burgreens. tabloidbintang.com

Helga Angelina, pemilik restoran Burgreens. tabloidbintang.com.

TEMPO.CO, Jakarta - Helga Angelina dahulu seorang remaja pesakitan yang harus terus minum antibiotik. Dia menderita asma, sinusitis dan eksim. “Ibu saya dokter,” kata wanita 26 tahun itu seperti dikutip dari Edisi Khusus Kartini Koran Tempo. Tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Malah, akibat kebanyakan obat sebelas tahun lalu dia mendapat sakit baru: inveksi ginjal dan liver.

“Ketika itulah dorongan untuk hidup sehat muncul begitu saja,” ujarnya. Kebetulan dia juga membaca buku “Food Combining” karangan Andang W. Gunawan yang berisi resep sehat menggunakan campuran buah dan sayuran. Baca: Pesan Gus Dur untuk Khofifah dan Perempuan Kartini

Dia mulai menghindari makanan berpengawet dan yang mengandung penyedap rasa, mengganti obat dengan akupuntur, dan menjadi vegetarian. "Dalam dua tahun asmaku hilang dan eksimku berkurang banget," katanya. Baca juga: Kartini dan 5 Perempuan Pahlawan Emansipasi

Makanya saat bertemu Max Mandias yang suka masak di Hogescyahool van Arnhem en Nijmegen, Belanda, keduanya bermimpi untuk bisnis kuliner sehat. Ketika tahun 2009, Helga belajar ilmu komunikasi di kampus itu. Artikel terkait: Reza Rahadian dan Dwi Sasono Bayangkan Kartini Masa Depan

Pada 2013, keduanya memutuskan kembali ke Jakarta. Bermodalkan Rp 200 juta, pasangan muda ini membangun gerai Burgreens pertama di Rempoa, Jakarta Selatan, pada November tahun itu Di restoran itu mereka menjual burger dari sayuran, salad, dan smoothies. Tentu bebas MSG. Patty Burger di antaranya terbuat dari jamur dan bayam. Semua bahan baku adalah sayuran organik.


Awal berdiri, Helga dan Max mengurus semuanya sendiri. Mulai dari memasak, melayani konsumen hingga mencuci piring. "Kami kerja hampir 16 jam. Selesai itu enggak langsung istirahat tapi beres-beres dan bikin patty," ujar Max. Keduanya sempat bertengkar dan hampir menutup Burgreens. Tapi urung. "Banyak yang udah kami tinggalin. Masak udah gitu aja gara-gara berantem," kata Helga. Apalagi kata dia, mereka punya tekad untuk membudayakan makanan sehat. Mereka berhasil.

Burgreens saat ini memiliki cabang di Tebet, Jakarta Selatan; Dharmawangsa, Jakarta Selatan; dan yang teranyar di SCBD. Mereka mempekerjakan sekitar 50 pegawai. Pemasok pun bertambah. Sekarang mereka membeli 17 bahan baku organik dari 20-an petani di berbagai daerah. Ubi misalnya dipasok dari Sumedang dan Beras merah dari Banyuwangi. Mereka juga membeli wortel, kentang, jamur, bayam, selada dan sayuran sehat lain.

Hampir empat tahun berdiri, Helga meraih berbagai penghargaan seperti Best Healty Food dari Trip Advisor, Zomato, dan Yahoo. Burgreens masuk top destinasi resto sehat di Jakarta versi Bloomberg.

Anak muda pun menyukai Burgreens. Nina, misalnya, perempuan berusia 25 tahun, mengaku setahun terakhir rutin makan di Burgreens. Menu favoritnya Mini Trio, burger rasa bayam, jamur, dan buncis seharga Rp 72 rib. "Badan kerasa lebih sehat aja. Cukup mahal, tapi worth it," ujarnya.

Helga mengakui dagangannya mahal. Menurutnya itu lantaran penggunaan bahan organik. Kini dia bermimpi Burgreens dapat bersaing dengan junkfood. "Goalnya adalah aku ingin buat makanan sehat mainstream," ujarnya.

KORAN TEMPO

Artikel lain:
Manfaat Kesehatan Hanya dari Sesendok Teh Biji Chia
Rahasia Kayu Manis untuk Kesehatan dan Kecantikan  
Pesan Gus Dur untuk Khofifah dan Perempuan Kartini


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?