Jumat, 21 Juli 2017 TEMPO.CO logo

update

Kamis, 20 April 2017 | 14:22 WIB

Festival Kartini Peselancar Pakai Kebaya, Konsentrasi Pecah

TEMPO.CO, Kuta - Peringatan Hari Kartini di Pantai Kuta, Bali dimeriahkan aksi peselancar perempuan dengan mengenakan kebaya.

Seorang peselancar yang memakai kebaya, Ainun Ni'mah mengatakan tak mudah mengambil posisi berdiri di atas papan dengan busana itu. "Saya kesulitan ketika mau berdiri di papan, karena tidak bisa leluasa," katanya setelah berselancar di acara Kartini Festival di pantai Kuta, Kamis, 20 April 2017. (Baca: Para Perempuan Hebat Bacakan Surat Kartini)

Meski begitu, perempuan 29 tahun itu tetap menikmati berseluncur di pantai. Dari kegiatan itu Ainun memaknai minat perempuan Indonesia harus semakin besar terhadap olahraga berselancar. "Surfing itu seru banget. Perempuan di Indonesia jangan pernah takut berekspresi," ujarnya. (Baca juga: Kartini, Antara Kebaya dan Edukasi Habis Gelap Terbitlah Terang)

Ainun awalnya enggan berselancar karena dia takut warna kulitnya menjadi gelap. Tapi setelah menggeluti olahraga itu selama 5 tahun, Ainun kian menikmati. "Saya lebih suka menikmati surfing karena asyik ketimbang memikirkan kulit jadi gelap," tutur perempuan asal Probolinggo itu.



Peselancar wanita asal Rusia mengenakan kebaya dan kain batik dalam acara Festival Kartini di Pantai Kuta, Bali, Kamis 20 April 2017. (Johannes P. Christo)

Pengalaman Ainun yang kesulitan berdiri di atas papan seluncurnya tak dirasakan peselancar Cikha Ayu Lestari. Perempuan 26 tahun ini tampak menikmati saat berdiri di atas papan selancar yang terus diseret ombak ke tepi pantai. Perempuan bertubuh mungil itu terlihat tidak terlalu kesulitan untuk berselancar menggunakan kebaya. (Baca: Bicara Kartini, Menteri Khofifah Sebut Megawati)

"Ini pertama kali berselancar pakai kebaya, memang terasa aneh," katanya. Saat mengambil ancang-ancang untuk meluncur, Cikha mengatakan, kainnya kerap tersangkut dan agak mengganggu ketika bahan kebaya yang basah kain nempel di kulit. "Ini bikin konsetrasi agak terpecah."


Dua peselancar wanita dengan baju kebaya dan kain batik di Pantai Kuta, Bali, Kamis 20 April 2017. (Johannes P. Christo)

Menurut Cikha, berselancar adalah olahraga yang menyenangkan dan penuh tantangan. "Jangan takut mencoba surfing. Perempuan juga jangan takut kulit hitam, jadi harus bangga," tuturnya. (Baca: Dian Sastro: Kartini Itu Buandel)

Adapun Rosita, 32 tahun, menilai potensi ombak di Indonesia sangat diminati wisatawan mancanegara. "Kita warga lokal harus memaksimalkan kekayaan alam yang kita punya," katanya. (Artikel lain: Reza Rahadian Bilang Kartini Sekarang Bukan Soal Kesetaraan)

Perempuan asal Surabaya yang sudah 1 tahun mempelajari olahraga selancar itu kian menikmati ketika ia mulai mengerti waktu kedatangan ombak yang bagus untuk berselancar. Ia pun tetap percaya diri dengan warna kulitnya yang semakin gelap karena berselancar. "Perempuan Indonesia, kalian akan tetap cantik apapun warna kulitmu. Selama kalian bahagia, lakukan saja," ucapnya.

BRAM SETIAWAN

Berita lainnya:
Kartini di Mata Najwa Shihab: Ibu Kita Harum Namanya
Wizzy Williana Ungkap Racikan Masker agar Kulit Mulus
Dian Sastro Gonta-ganti Peran Sampai Akhirnya Jadi Kartini



Komentar(0)