Selasa, 22 Agustus 2017

Menikmati Kelezatan Kuliner Turki di Turkuaz

Selasa, 21 Maret 2017 | 12:00 WIB
Sis kebab Restoran Turkuaz, Jakarta. TEMPO/Sorta Tobing

Sis kebab Restoran Turkuaz, Jakarta. TEMPO/Sorta Tobing.

TEMPO.CO, Jakarta - Di dalam restoran Turkuaz, terasa nuansa Turki. Kumpulan pigura hitam berisi foto-foto lanskap negara bekas Dinasti Ottoman itu berjejer di dinding. Ada kesan nostalgia karena semua foto hitam-putih. Di langit-langit tergantung lampu dari pecahan kaca warna-warni yang banyak dijual di Grand Bazaar, Istanbul. Di tengah ruangan, bahkan, ada kumpulan lampu tersebut membentuk seperti chandelier.

Tidak banyak meja dan kursi yang tersedia. Kurang-lebih hanya 30 tempat duduk. Kursi yang dekat dengan jendela mendapat pencahayaan dan pemandangan paling menarik karena menghadap ke jalan. Tapi sayang, karena lantai dua restoran sedang direnovasi, bagian itu menjadi area untuk merokok.

Pilihan makanan dalam menu sangat variatif. Semua tentu saja khas Turki. Ada kebab, sashlik (sate), sampai pasta, seperti lasagna. Agak bingung memutuskan pilihan kalau belum pernah mencoba makanan dari negara itu. Seorang pelayan membantu memilihkan makanan. Sebagai menu pembuka, dia menyarankan roti dengan empat pilihan saus sebagai cocolannya.

Agak lama menunggu makanan tersebut datang. Untungnya, penantian tersebut tidak percuma. Penyajiannya sangat cantik. Dua lembar roti pita yang mengembang seperti kubah berada di atas alas kayu. Lalu, empat sausnya disajikan dalam satu piring panjang dengan empat kotak di dalamnya. Roti yang gurih dan renyah. Roti dipanggang di oven kayu bakar.

Kalau memandang ke arah dapur, yang berseberangan dengan jendela, akan terlihat oven tersebut. Materialnya dari batu bata, terlihat sangat tradisional. Empat saus yang tersaji, Rizal mengatakan, terdiri atas zeytinyagli hummus, babaganuc, gavurdagi salatasi, dan ispanakli peynirli borek. Nama yang sulit, tapi jangan terlalu pusing memilihnya karena semua enak.


Hummus merupakan bubur kacang arab yang dicampur dengan minyak zaitun, adonan biji wijen, perasan jeruk lemon, garam, dan bawang putih. Rasanya asin dan teksturnya lembut. Di atas hummus terdapat pine nut kecil-kecil dan pipih. Rasa babaganuc atau babaganoush agak pedas. Isinya adalah potongan terung panggang, tomat, bawang putih, dan cabai merah.

Saus yang ketiga, gavurdagi salatasi, terasa lebih segar dan asam. Potongan mentimun dibuat seperti dadu, bercampur dengan tomat dan kacang kenari. Campuran minyak zaitun membuat teksturnya kenyal. Yang terakhir, ispanakli peynirli borek, ternyata bukan saus, melainkan camilan. Bentuknya segitiga. Kulit luarnya rapuh seperti roti Prancis, croissant. Di dalamnya terdapat bayam sehingga rasanya asin dan gurih.

Rizal mengatakan bahwa memakan hidangan pembuka ini sebaiknya dengan tangan. Sobek roti yang tersedia sedikit saja. Kemudian, dengan sendok, masukkan isian tiga saus yang tersedia. Kalau ingin lebih praktis, roti bisa langsung dicocol. Chef dan pemilik Turkuaz, Sezai Zorlu, asli dari Turki. Sezai membuat restoran ini setelah sebelumnya memasak di restoran serupa di Kemang. Tujuannya adalah ingin menyajikan hidangan masa kecilnya di negara tersebut.

Sebagai menu utama, disarankan sis kebab. Ada pilihan daging sapi, kambing, dan ayam. Tamu yang baru pertama kali datang sebaiknya mencoba semua. Tiga daging tersebut tersaji dalam ukuran kotak-kotak kecil, seperti daging tusukan sashlik. Semuanya empuk, apalagi daging kambing yang dipanggang setengah matang. Rasa merica sangat terasa, tapi dalam takaran yang tepat.

Di pinggir daging terdapat nasi yang dimasak bersama kismis dan kacang kenari. Rasa nasinya manis, agak sulit diterima lidah Indonesia. Tapi, kalau bercampur dengan daging, rasa tersebut sedikit hilang dan berganti dengan gurih. Jika ingin menambah dengan sayur, Anda bisa mencoba tumis jamur dengan lelehan keju mozzarella di atasnya. Semua terasa nikmat ketika teh apel panas menjadi minuman pendamping. Segar dan tekstur minuman itu lebih lembut dari sari apel.

Makanan penutup khas Turki, baklava, tidak sempat saya coba. Padahal kue ini lumayan langka di Jakarta. Semua makanan dan penyajian di Turkuaz sangat otentik dan enak.

KORAN TEMPO

Berita lainnya:
Mentega di Atas Ramen Ippudo
Resep Membuat Selai Kacang Rumahan
Mau Jajal Makanan Prancis, Kunjungi 37 Restoran Berikut


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?