Minggu, 25 Juni 2017 TEMPO.CO logo

fashion

Senin, 20 Maret 2017 | 19:00 WIB

Uniknya Kain Ikat Celup Khas Indonesia Dibanding Negara Lain

TEMPO.CO, Jakarta - Teknik pewarnaan dengan ikat celup yang telah dikenal dunia mode global, ternyata masih kalah dengan teknik ikat celup asli Indonesia. Kain ikan celup Indonesia memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi sehingga menghasilkan produk yang lebih beragam.

Neneng Iskandar, Wakil Ketua Himpunan Wastraprema mengatakan kain dengan teknik pewarna ikat celup sebenarnya diterapkan oleh berbagai negara di dunia dengan sebutan tie dye. "Kita tidak hanya diikat tetapi kami juga melakukan delujur sehingga lebih sulit. Dan semua dikerjakan oleh tangan maka teknik kita lebih rumit dan alami," ujarnya.

Dalam pembuatannya, perajin harus membuat pola di setiap sisi kain lalu menjahitnya dengan tali rafia sehingga membentuk jelujur. Setelah itu, tali rafia tersebut ditarik sehingga kain terikat lalu dicelup ke dalam pewarna. Setelah kering, ikatan dibuka maka akan terbentuk pola yang unik.

Di Jepang, lanjutnya, teknik serupa digunakan untuk membuat kain shibori biasanya diproduksi tidak hanya dengan tangan, tetapi menggunakan alat. Adapun untuk di daerah lain Nusantara juga dikenal teknik serupa dengan nama yang berbeda, seperti di Palembang bernama pelangi atau kain roto dari Sulawesi.


Untuk melestarikan wastra atau kain tradisional, menurutnya, masyarakat juga perlu diperkenalkan teknik pembuatan kain ikat celup ini agar masyarakat bisa membedakan berbagai macam wastra yang dibeli dan dipakainya.

BISNIS

Baca juga:
Tip Membiasakan Diri Pakai Kain untuk Beraktivitas
Desainer Musa: Modifikasi Kebaya Kebablasan
Koleksi Target Victoria Beckham Terinspirasi dari Putrinya Harper



Komentar(0)